Tampilkan postingan dengan label fifi dan renno. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fifi dan renno. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 Maret 2011

Renno dan Fifi, sebuah cinta yang dilematis

Kisah cinta antar sepasang remaja adalah suatu hal yang biasa. Contohnya Fifi, seorang gadis desa, yang baru saja mendapatkan gelar sarjana setelah 6 tahun kuliah ini, jatuh hati pada seorang pemuda yang bernama Renno, pemuda tampan dari negeri seberang. Cerita biasa.



Tetapi menjadi tidak biasa manakala mereka adalah saudara sepupu yang berasal dari kakek - nenek yang sama.

Mereka merasa sangat cocok satu sama lain dan merasa takkan terpisahkan. Suara-suara Ninik Mamak yang menasihatinya tak membuat cinta mereka luntur.

Walaupun Renno jauh di Pulau Kalimantan karena tugas kerjanya, dan Fifi di Ciputat, sebuah tempat diujung selatan Jakarta, setiap hari mereka berbicara dan berdiskusi, dari masalah remeh temeh seperti sudah mandi atau belum, sampai hal-hal yang serius seperti masalah pernikahan mereka yang tak kunjung diizinkan.

Baik Ibu Mamah, bundanya Fifi, ataupun Ibu Neneng, ibunya Renno merasa sangat aneh dengan hubungan mereka.

“Nanaonan daria!”

”Piraku rek wawarangan jeung dulur ieu kami?” kata orang Menes.

Trus kata orang Seberang, “Idaklah... idak elok”

Maka mereka pun berusaha membuka dialog terbuka, yang tentu saja tujuannya untuk mencegah hubungan mereka, tapi tidak ada hasil. Semakin hari perasaan mereka semakin mendalam saja.

Pernah suatu kali Ibu Mamah berbicara pada Renno melalui telepon, menyarankan Renno agar mengkaji ulang persekutuan mereka, tetapi Renno, dengan kritis bertanya,

“kenapa tidak boleh,wa?”

“Apakah ada larangannya dalam Alquran dan Hadits?”

Dijawab oleh uwaknya

“He.. duka eta nyah... Uwa teu patos terang”

“Nah, kalau begitu kenapa wa? Renno lihat di Padang dan di Medan banyak orang yang menikah dengan sepupu?!”

“Atuh urang mah lain urang Padang dan Medan” kata uwak asal jawab
Lalu terhentilah percakapan mereka. Menggantung.

Jarak yang jauh tadi tidak membuat mereka kesulitan dalam berkomunikasi. Dengan Facebook, mereka bisa chatting dan saling mengomentari isi hati atau foto masing-masing. Dengan email,mereka bisa saling tulis curhatan atau topik yang menarik. Belum lagi dengan handphone, tak terhitung berapa kali dalam sehari Fifi ataupun Renno ber-sms dan bicara.

Jadi, apapaun warning dari Ibu Mamah-Bapak Eman dan Ibu Neneng-Bapak Rizal, tidak dapat membendung hubungan mereka, karena jauh atau dekat dari mereka, perangkat-perangkat tadi ada di mana-mana.

Lebih dari itu, Fifi bukanlah tipe gadis pingitan yang manut tanpa reserve pada orang tua. Dia adalah gadis modern yang logis, yang akan bertanya kenapa ini boleh dan itu tidak.



Ia juga orang yang punya “harga diri” tinggi, tidak akan pernah mau mencuci piring atau menyapu kalau kedua pekerjaan itu disuruh kerjakan olehnya. Ia hanya akan mencuci piring kalau dia mau melakukannya, dan itu sangat jarang.

Ia adalah perempuan yang tidak akan pernah cocok jika bermertuakan orang Jogja tentunya, karena bisa saja akan berkata pada ibunda suaminya,
“Ibu, kok hari ini tidak masak? Saya lapar nih!”

Tapi ia sangat helpful dan siap membantu orang lain kapanpun diperlukan, asalkan dia lagi mood, lagi sempat dan sedang tidak pilek,

“Hhhaa-‘eh! Huchuwaccih!”

Kasihan Renno dan Fifi, semakin hari usia mereka semakin bertambah, dan mereka belum mengantongi izin dari orang tuanya. Banyak gadis yang mendekati Renno karena ia ngganteng dan ramah. Tapi Cinta Renno cuma buat Fifi. Begitupula sebaliknya, Kumbang-kumbangpun banyak yang mencoba mendekati Fifi, mulai dari bujang lapuk dari Ciupas Pagelaran, sampai pemuda Jawa Perlente yang ditawarkan Mbah Paryono padanya.

Tapi Cinta Fifi cuma buat Renno.

Tolonglah pembaca, saya jadi pusing.

- Ciputat, Awal Maret 2011 -