Rabu, 29 Juni 2011
Kamis, 07 April 2011
Anak-anakku masuk sekolah (lagi)
Subhanallah, betapa besar anugerah yang kau berikan pada hamba-hambamu di jagat raya ini.
Anugerah yang tak ternilai bagi manusia adalah keturunannya. Bagiku, anak-anakku adalah sumber inspirasi dan kebahagiaan yang tiada putus-purusnya. Subhanallah..
Terimakasih ya Allah..
Tahun ini anakku yang pertama, Hanif Ibrahim Mumtaz, akan melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Oim, nama panggilannya, insya Allah ingin melanjutkan kuliah kuliah di jurusan hukum.
Oim tak sabar ingin segera kuliah, karena, katanya, dia tidak akan lagi bertemu dengan ilmu-ilmu yang "tak berguna dan menghabiskan waktu" haaa???
Emangnya ada Im, ilmu yang tak berguna? Kalau mamah sih tahunya cuma ada
"ilmu.... yang berguna... slalu dilimpahkan... untuk bekalku ..nantiiii"
Ternyata maksud dia adalah ketika di SMA sekarang ini, dia mempelajari banyak bidang ilmu yang tidak sesuai dengan "kebutuhannya saat ini", yang sesuai dengan "jurusan" yang dia kehendaki.
Kata si Oim, seharusnya anak- anak Indonesia ini tidak terlau dijejali berbagai mata pelajaran yang, jika sudah usai ulangan, menguap begitu saja ditelan angin lalu, seiring terbangnya kertas-kertas ulangan ke tempat sampah..
Tetapi, ajarilah mereka beberapa matapelajaran saja, yang "menyenangkan,berguna, dan membumi", tapi mendalam, sehingga ketika lulus sekolah nanti bisa dipraktekkan di rumah sendiri...
begitu kata si Oim.
Dia bermimpi menjadi seorang pengacara yang Soleh, katanya. Untuk cita-citanya itu, sekarang Oim sedang rajin belajar. Dia ikut bimbel di sekolahnya, dan juga di tempat les, sebuah lembaga yang bernama Nurul Fikri di Pondok Labu, Jaksel.
Di rumah, Oim juga lebih rajin dari biasanya (ehm). Selain membaca buku-buku paket sekolah, ia juga nonton film2 yang bertema hukum yang sub titlenya bahasa Inggris.
Jadi ada 3 macam Ujian yang harus dihadapi Oim dalam waktu dekat ini, yaitu UAS, UAN dan SENAMPTN.
Semoga cita-cita Oim tercapai.
Putriku yang kedua, Nadezhda Mariam Mumtaz, atau Teta, sudah akan menyelesaikan SMP nya dan akan melanjutkan ke SMK. Teta ingin mendalami ilmu Tata Boga. Ia beralasan, biar sering makan kue dan masakan lezat, maka ia ingin menjadi koki di restoran.
Dibandingkan Oim, sikap Teta lebih santai dalam menghadapi ujian akhir. Atau mungkin Teta tidak terlalu ekspressif sehingga jarang terdengar kekhawatiran atau keluh kesah.
Sayangnya, tidak ada SMK yang dekat dari rumah kami di daerah Ciputat, yang ada jurusan memasak, sehingga kami harus mencari SMK yang lebih jauh, yaitu di Kebeyoran Baru atau Ragunan.
Pada akhirnya, aku akan mendukung dimanapun Teta sekolah, asalkan niatnya memang lurus untuk mencari ilmu.
Kejarlah cita-citamu Teta.. dan tersenyumlah!
Semoga lulus ya Tet...
Nah, yang lain, yang ke tiga...
Inilah dia...Ola
Ola ingin menjadi penyiar Radio dan animator/ilustrator majalah. Dua-duanya di bidang media komunikasi. Demi cita-citanya itu Ola sangat intens mengikuti pelajaran apapun yang disuguhkan gurunya.
Ola memang beda. Dia sangat taat pada gurunya. Sehingga tak heran jika dia sering membawa pulang piala: juara story telling, juara menulis karangan, juara membaca ayat dan puisi Alquran, dsb.
Tapi tak urung, Ola sering lelah dan tertekan. sehingga dia sering manyun... nyunn
Trakhir, Si kakak... atau Cinta
Cita-cita kakak pada awalnya ingin jadi jerapah.. karena Jerapah itu tinggi dan cantik kali ya. Tapi akhir-akhir ini cita-citanya berubah. Ia ingin menjadi polisi wanita dan guru menari.
Kakak baru mau masuk SD sekarang dan dia mulai menyiapkan segala sesuatunya. Pulpen, pensil, penggaris.
Oya, kakak juga berniat pergi haji kalau celengan plastik ayamnya udah penuh. Dia memasukkan koin seratusan, limaratusan, seribuan... dan juga lembaran seribu sampai limapuluh ribuan.
Ketika aku kehabisan uang belanja dan aku pinjam, dia menolak dan keukeuh uangnya diperuntukkan buat pergi haji nanti bareng sama mama.
Suatu saat, ketika aku akan memasukkan uang sepuluh ribuan, kuangkat si ayam... kok ringan?
ternyata di bagian bawah si ayam, maaf, pantatnya ada yang merobek dengan rapi, sepertinya pakai silet. Dan...
Oh, kakak kecewa... ternyata kosong... hanya ada uang recehan yang tak berarti..
Uang kakak hilang di telan bumi... (pasti orang dewasa yang mencuri, mengingat sayatannya sangat rapi, hiks)
Semoga kakak cepat jadi polisi dan guru nari sehingga celengan ayamnya penuh lagi. Amin.
Hehehe
Ciputat, 14 April 2011.
Anugerah yang tak ternilai bagi manusia adalah keturunannya. Bagiku, anak-anakku adalah sumber inspirasi dan kebahagiaan yang tiada putus-purusnya. Subhanallah..
Terimakasih ya Allah..
Tahun ini anakku yang pertama, Hanif Ibrahim Mumtaz, akan melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Oim, nama panggilannya, insya Allah ingin melanjutkan kuliah kuliah di jurusan hukum.
Oim tak sabar ingin segera kuliah, karena, katanya, dia tidak akan lagi bertemu dengan ilmu-ilmu yang "tak berguna dan menghabiskan waktu" haaa???
Emangnya ada Im, ilmu yang tak berguna? Kalau mamah sih tahunya cuma ada
"ilmu.... yang berguna... slalu dilimpahkan... untuk bekalku ..nantiiii"
Ternyata maksud dia adalah ketika di SMA sekarang ini, dia mempelajari banyak bidang ilmu yang tidak sesuai dengan "kebutuhannya saat ini", yang sesuai dengan "jurusan" yang dia kehendaki.
Kata si Oim, seharusnya anak- anak Indonesia ini tidak terlau dijejali berbagai mata pelajaran yang, jika sudah usai ulangan, menguap begitu saja ditelan angin lalu, seiring terbangnya kertas-kertas ulangan ke tempat sampah..
Tetapi, ajarilah mereka beberapa matapelajaran saja, yang "menyenangkan,berguna, dan membumi", tapi mendalam, sehingga ketika lulus sekolah nanti bisa dipraktekkan di rumah sendiri...
begitu kata si Oim.
Dia bermimpi menjadi seorang pengacara yang Soleh, katanya. Untuk cita-citanya itu, sekarang Oim sedang rajin belajar. Dia ikut bimbel di sekolahnya, dan juga di tempat les, sebuah lembaga yang bernama Nurul Fikri di Pondok Labu, Jaksel.
Di rumah, Oim juga lebih rajin dari biasanya (ehm). Selain membaca buku-buku paket sekolah, ia juga nonton film2 yang bertema hukum yang sub titlenya bahasa Inggris.
Jadi ada 3 macam Ujian yang harus dihadapi Oim dalam waktu dekat ini, yaitu UAS, UAN dan SENAMPTN.
Semoga cita-cita Oim tercapai.
Putriku yang kedua, Nadezhda Mariam Mumtaz, atau Teta, sudah akan menyelesaikan SMP nya dan akan melanjutkan ke SMK. Teta ingin mendalami ilmu Tata Boga. Ia beralasan, biar sering makan kue dan masakan lezat, maka ia ingin menjadi koki di restoran.
Dibandingkan Oim, sikap Teta lebih santai dalam menghadapi ujian akhir. Atau mungkin Teta tidak terlalu ekspressif sehingga jarang terdengar kekhawatiran atau keluh kesah.
Sayangnya, tidak ada SMK yang dekat dari rumah kami di daerah Ciputat, yang ada jurusan memasak, sehingga kami harus mencari SMK yang lebih jauh, yaitu di Kebeyoran Baru atau Ragunan.
Pada akhirnya, aku akan mendukung dimanapun Teta sekolah, asalkan niatnya memang lurus untuk mencari ilmu.
Kejarlah cita-citamu Teta.. dan tersenyumlah!
Semoga lulus ya Tet...
Nah, yang lain, yang ke tiga...
Inilah dia...Ola
Ola ingin menjadi penyiar Radio dan animator/ilustrator majalah. Dua-duanya di bidang media komunikasi. Demi cita-citanya itu Ola sangat intens mengikuti pelajaran apapun yang disuguhkan gurunya.
Ola memang beda. Dia sangat taat pada gurunya. Sehingga tak heran jika dia sering membawa pulang piala: juara story telling, juara menulis karangan, juara membaca ayat dan puisi Alquran, dsb.
Tapi tak urung, Ola sering lelah dan tertekan. sehingga dia sering manyun... nyunn
Trakhir, Si kakak... atau Cinta
Cita-cita kakak pada awalnya ingin jadi jerapah.. karena Jerapah itu tinggi dan cantik kali ya. Tapi akhir-akhir ini cita-citanya berubah. Ia ingin menjadi polisi wanita dan guru menari.
Kakak baru mau masuk SD sekarang dan dia mulai menyiapkan segala sesuatunya. Pulpen, pensil, penggaris.
Oya, kakak juga berniat pergi haji kalau celengan plastik ayamnya udah penuh. Dia memasukkan koin seratusan, limaratusan, seribuan... dan juga lembaran seribu sampai limapuluh ribuan.
Ketika aku kehabisan uang belanja dan aku pinjam, dia menolak dan keukeuh uangnya diperuntukkan buat pergi haji nanti bareng sama mama.
Suatu saat, ketika aku akan memasukkan uang sepuluh ribuan, kuangkat si ayam... kok ringan?
ternyata di bagian bawah si ayam, maaf, pantatnya ada yang merobek dengan rapi, sepertinya pakai silet. Dan...
Oh, kakak kecewa... ternyata kosong... hanya ada uang recehan yang tak berarti..
Uang kakak hilang di telan bumi... (pasti orang dewasa yang mencuri, mengingat sayatannya sangat rapi, hiks)
Semoga kakak cepat jadi polisi dan guru nari sehingga celengan ayamnya penuh lagi. Amin.
Hehehe
Ciputat, 14 April 2011.
Kamis, 31 Maret 2011
PULANG KAMPUNG, sebuah catatan buat mang Azis
Dalam sebuah perbincangan dengan seorang kawan baru di suatu sore, dia menceritakan rencananya untuk pulang kampung.
Dengan antusias dia merinci mimpi-mimpinya, apa yang akan dia lakukan setelah nanti dia meninggalkan pekerjaannya, menjual rumahnya, dan memboyong serta istri dan kedua anaknya.
"Mau apa pulang kampung?" tanyaku dengan nada biasa.
"Banyak," katanya. "Pertama, saya akan membuat bale*, mudah-mudahan satu dua orang akan tertarik untuk datang belajar alquran, tahsin, dan tahfidz", wah...
Selanjutnya, dia juga akan melanjutkan usaha ayahnya mencerdaskan warga kampung dengan mengajar ngaji setiap malam dan berceramah bagi pengajian mingguan ibu-ibu.
Pada perjalanannya nanti, akan dibukanya sekolah yang menggunakan kurikulum berbasis kampung. Yaitu, para siswa akan digiring pada suatu kemampuan dasar yang diperlukan ketika mereka lulus nanti.
Misal, di kampungnya, lapangan kerja yang mendominasi adalah pertanian, maka di sekolah tersebut akan diajarkan bagaimana praktek bertani; turun ke sawah, mencangkul tanah, menanam sayuran, dan lain-lain.
Saya mulai tertarik...
"Kampung saya juga baik untuk peternakan, jadi saya akan ajarkan bagaimana cara ngurusan embe dan munding, menyediakan pakan, dan cara membuat kompos."
Keren... (Jadi kalau kampung dia di pesisir, dia akan membuat sekolah nelayan..)
Setelah perbincangan itu saya terhenyak dan berfikir, betapa sebenarnya pemikiran-pemikiran seperti ini sangat diperlukan oleh masyarakat kita.
Saya mempunyai teman lain yang sangat rajin memanfaatkan lahannya yang terbatas di sekitar rumahnya untuk ditanami berbagai macam tanaman; ubi, talas, pisang....
Disela-sela pekerjaan utamanya sebagai guru, dia menikmati waktunya bermesra dengan tanah gembur dan hijaunya dedaunan. Dia sangat menikmati hobinya itu, terutama jika kebunnya itu menghasilkan...
Dia bercerita betapa persediaan pisang tak habis-habisnya di dapurnya, dia dan keluarganya dapat membagi hasil kebunnya pada tetangganya jika panen tiba, sehingga tetangganya merasa senang.
Saya berkomentar, jika saja setiap pemilik tanah di negara subur ini memanfaatkan setiap jengkal tanahnya seperti bapak itu, tentu tak akan ada keluhan kelaparan atau kekurangan gizi bagi para penduduk.
Di nusantara yang gemah ripah loh jinawi ini, dimana "cau rayud, gedang raang", tak akan ada ibu-ibu yang harus naik ojek 3 km ke pasar hanya untuk membeli cabai dan tomat.
Seperti di kampung saya, hanya segelintir orang yang mampu makan 4 sehat 5 sempurna, karena sebagian besarnya benar-benar tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarganya, karena tidak mempunyai uang untuk membelinya, dan tidak memiliki kebun sayur dan ternak ayam/bebek.
Aneh, bukan? betapa ironisnya kita ini, hidup di negara agraris yang terbentang luas dibawah garis khattul Istiwa
, dimana tongkat kayu dan batu jadi tanaman , namun memiliki tingkat kesejahteraan yang sangat rendah.
Belum lagi klaim bahwa Indonesia adalah negara maritim, dimana ikan-ikan lezat di samudera nan luas menanti disantap, oleh bocah-bocah kecil Indonesia nan cerdas pada mulanya, namun kemudian menjadi bodoh gara-gara tidak mampu menangkapnya.
Mengapa? Mengapa oh Mengapa?
Oooohh.... saya tahu sekarang jawabannya..
Terinspirasi rencana kawan baru saya itu, saya ingin mengatakan, bahwa ada yang "missed" dengan pola pendidikan kita.
Lihatlah, betapa kita diajak berkhayal dengan mimpi-mimpi kosong di sekolah dengan sistem pendidikan kita yang mengajarkan "mental pegawai", dengan materi pelajaran yang tidak nyambung.
Seperti waktu sekolah saya dulu, ibu saya berkata, " Nak, kalau nanti kamu jadi guru dan punya gaji, kamu harus bantu saudara-saudaramu yang tidak mampu ya!" pada kenyataannya, sekarang saya belum mampu memenuhi harapan ibu saya itu.
Di sekolah, anak-anak diajari berbagai bidang ilmu yang kurang membumi buat anak seusia mereka. Bahkan kadang sama sekali tidak terpakai pada saat itu dan sesudahnya.
Maaf, bukan maksud saya menafikan ilmu yang mereka dapatkan, tetapi kurang tepat sasaran dan juga waktunya. Sementara jika waktu yang sedikit itu digunakan untuk mengajarkan hal-hal lain yang bersifat "life skills", maka saya yakin hasilnya akan luar biasa.
Contoh, si Ola, anak saya waktu kelas 4 SD. Guru dan buku2 paket mengajarkan PKN tentang istilah-istilah dalam ketata negaraan, sepeerti menghafalkan nama-nama lembaga legislatif dan eksekutif, dsb, ketimbang mengajarkan enterpreuneurship, atau pertanian, atau peternakan yang nyata-nyata diperlukan ketika dia turun gunung nanti.
Ilmu ketetanegaraan tadi terhenti pada ulangan harian dan EHB, setelah itu, ada penghargaan bagi yang nilai rapornya bagus, dan ada keluhan jika sebaliknya.
Sudah....
So what next?
Nanti ketika anak-anak lulus SMA, d kota ataupun di desa, maka nama harumnya akan pudar perlahan-lahan sebagai "anak sekolahan" yang berbudaya tinggi, karena kebanyakan dari mereka tidak dapat langsung mengaplikasikan ilmu yang didapatnya di sekolah.
Hal itu disebabkan karena ilmu yang mereka dapatkan masih etrlalu "umum" dan "bias". Pada saat orang tua mereka memerlukan bantuan mereka untuk mengerjakan pertaniannya atau peternakannya,atau membantu di warung kecilnya misalnya, mereka akan "kagok" bahkan "alergic", karena selama ini sekolah tidak mengajarkan hal-hal tersebut pada mereka.
Belum lagi kita bicara masalah akhlak (attitude, pembahasannya lain kali ya...). Bagaimana para lulusan sekolah itu menyikapi "kenyataan" di lapangan.
Nah, sodara...
Marilah kita hidup sejahtera di bumi kita yang subur ini, marilah kita pandai dan terampil mengelola sumber alam kita yang kaya raya ini, dengan memperbaiki pola pikir dalam sistem pendidikan anak-anak bangsa, sebelum semua harta benda kita habis diangkut oleh negara digdaya ke negara mereka.
Lihat, betapa di pasar-pasar kita, baik tradisional maupun moderen, lapak buah dipenuhi oleh jeruk lookam, ponkam, anggur red globe, apel Fuji. Ada lagi kripik singkong import dari Amerika, wortel import dari China, Sapi potong beku dari New Zealand, telur bebek dari Jepang, ikan asin entah dari mana....
Ih... malu deh....
Pondok Pinang, 1 April 2011
Dengan antusias dia merinci mimpi-mimpinya, apa yang akan dia lakukan setelah nanti dia meninggalkan pekerjaannya, menjual rumahnya, dan memboyong serta istri dan kedua anaknya.
"Mau apa pulang kampung?" tanyaku dengan nada biasa.
"Banyak," katanya. "Pertama, saya akan membuat bale*, mudah-mudahan satu dua orang akan tertarik untuk datang belajar alquran, tahsin, dan tahfidz", wah...
Selanjutnya, dia juga akan melanjutkan usaha ayahnya mencerdaskan warga kampung dengan mengajar ngaji setiap malam dan berceramah bagi pengajian mingguan ibu-ibu.
Pada perjalanannya nanti, akan dibukanya sekolah yang menggunakan kurikulum berbasis kampung. Yaitu, para siswa akan digiring pada suatu kemampuan dasar yang diperlukan ketika mereka lulus nanti.
Misal, di kampungnya, lapangan kerja yang mendominasi adalah pertanian, maka di sekolah tersebut akan diajarkan bagaimana praktek bertani; turun ke sawah, mencangkul tanah, menanam sayuran, dan lain-lain.
Saya mulai tertarik...
"Kampung saya juga baik untuk peternakan, jadi saya akan ajarkan bagaimana cara ngurusan embe dan munding, menyediakan pakan, dan cara membuat kompos."
Keren... (Jadi kalau kampung dia di pesisir, dia akan membuat sekolah nelayan..)
Setelah perbincangan itu saya terhenyak dan berfikir, betapa sebenarnya pemikiran-pemikiran seperti ini sangat diperlukan oleh masyarakat kita.
Saya mempunyai teman lain yang sangat rajin memanfaatkan lahannya yang terbatas di sekitar rumahnya untuk ditanami berbagai macam tanaman; ubi, talas, pisang....
Disela-sela pekerjaan utamanya sebagai guru, dia menikmati waktunya bermesra dengan tanah gembur dan hijaunya dedaunan. Dia sangat menikmati hobinya itu, terutama jika kebunnya itu menghasilkan...
Dia bercerita betapa persediaan pisang tak habis-habisnya di dapurnya, dia dan keluarganya dapat membagi hasil kebunnya pada tetangganya jika panen tiba, sehingga tetangganya merasa senang.
Saya berkomentar, jika saja setiap pemilik tanah di negara subur ini memanfaatkan setiap jengkal tanahnya seperti bapak itu, tentu tak akan ada keluhan kelaparan atau kekurangan gizi bagi para penduduk.
Di nusantara yang gemah ripah loh jinawi ini, dimana "cau rayud, gedang raang", tak akan ada ibu-ibu yang harus naik ojek 3 km ke pasar hanya untuk membeli cabai dan tomat.
Seperti di kampung saya, hanya segelintir orang yang mampu makan 4 sehat 5 sempurna, karena sebagian besarnya benar-benar tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarganya, karena tidak mempunyai uang untuk membelinya, dan tidak memiliki kebun sayur dan ternak ayam/bebek.
Aneh, bukan? betapa ironisnya kita ini, hidup di negara agraris yang terbentang luas dibawah garis khattul Istiwa
, dimana tongkat kayu dan batu jadi tanaman , namun memiliki tingkat kesejahteraan yang sangat rendah.
Belum lagi klaim bahwa Indonesia adalah negara maritim, dimana ikan-ikan lezat di samudera nan luas menanti disantap, oleh bocah-bocah kecil Indonesia nan cerdas pada mulanya, namun kemudian menjadi bodoh gara-gara tidak mampu menangkapnya.
Mengapa? Mengapa oh Mengapa?
Oooohh.... saya tahu sekarang jawabannya..
Terinspirasi rencana kawan baru saya itu, saya ingin mengatakan, bahwa ada yang "missed" dengan pola pendidikan kita.
Lihatlah, betapa kita diajak berkhayal dengan mimpi-mimpi kosong di sekolah dengan sistem pendidikan kita yang mengajarkan "mental pegawai", dengan materi pelajaran yang tidak nyambung.
Seperti waktu sekolah saya dulu, ibu saya berkata, " Nak, kalau nanti kamu jadi guru dan punya gaji, kamu harus bantu saudara-saudaramu yang tidak mampu ya!" pada kenyataannya, sekarang saya belum mampu memenuhi harapan ibu saya itu.
Di sekolah, anak-anak diajari berbagai bidang ilmu yang kurang membumi buat anak seusia mereka. Bahkan kadang sama sekali tidak terpakai pada saat itu dan sesudahnya.
Maaf, bukan maksud saya menafikan ilmu yang mereka dapatkan, tetapi kurang tepat sasaran dan juga waktunya. Sementara jika waktu yang sedikit itu digunakan untuk mengajarkan hal-hal lain yang bersifat "life skills", maka saya yakin hasilnya akan luar biasa.
Contoh, si Ola, anak saya waktu kelas 4 SD. Guru dan buku2 paket mengajarkan PKN tentang istilah-istilah dalam ketata negaraan, sepeerti menghafalkan nama-nama lembaga legislatif dan eksekutif, dsb, ketimbang mengajarkan enterpreuneurship, atau pertanian, atau peternakan yang nyata-nyata diperlukan ketika dia turun gunung nanti.
Ilmu ketetanegaraan tadi terhenti pada ulangan harian dan EHB, setelah itu, ada penghargaan bagi yang nilai rapornya bagus, dan ada keluhan jika sebaliknya.
Sudah....
So what next?
Nanti ketika anak-anak lulus SMA, d kota ataupun di desa, maka nama harumnya akan pudar perlahan-lahan sebagai "anak sekolahan" yang berbudaya tinggi, karena kebanyakan dari mereka tidak dapat langsung mengaplikasikan ilmu yang didapatnya di sekolah.
Hal itu disebabkan karena ilmu yang mereka dapatkan masih etrlalu "umum" dan "bias". Pada saat orang tua mereka memerlukan bantuan mereka untuk mengerjakan pertaniannya atau peternakannya,atau membantu di warung kecilnya misalnya, mereka akan "kagok" bahkan "alergic", karena selama ini sekolah tidak mengajarkan hal-hal tersebut pada mereka.
Belum lagi kita bicara masalah akhlak (attitude, pembahasannya lain kali ya...). Bagaimana para lulusan sekolah itu menyikapi "kenyataan" di lapangan.
Nah, sodara...
Marilah kita hidup sejahtera di bumi kita yang subur ini, marilah kita pandai dan terampil mengelola sumber alam kita yang kaya raya ini, dengan memperbaiki pola pikir dalam sistem pendidikan anak-anak bangsa, sebelum semua harta benda kita habis diangkut oleh negara digdaya ke negara mereka.
Lihat, betapa di pasar-pasar kita, baik tradisional maupun moderen, lapak buah dipenuhi oleh jeruk lookam, ponkam, anggur red globe, apel Fuji. Ada lagi kripik singkong import dari Amerika, wortel import dari China, Sapi potong beku dari New Zealand, telur bebek dari Jepang, ikan asin entah dari mana....
Ih... malu deh....
Pondok Pinang, 1 April 2011
Kamis, 24 Maret 2011
Kamis, 17 Maret 2011
KISAH SUKSES MANG LILI
Lili Nahriri pada Dialog Pendidikan di Madrasah MA Majau
“Perkenalkan, Nama saya Lili Nahriri, Alamat Sodong, Pendidikan Aliyah Mathlaul Anwar, Al azhar Mesir, dan S2 PTIQ Jakarta.”
Ia memperkenalkan dirinya. Anak muda ini datang tepat waktu yang dijanjikan, tapi acara dialog tersebut mulai setangah jam sesudahnya. Dia harus menunggu para hadirin yang justru mengundangnya. (memalukan!)
“Bagaimana kita mau meningkatkan Kualitas Pendidikan kita, “ katanya memulai, “kalau guru-guru saja terbiasa datang terlambat, dan hari ini kita juga mulai acara dengan terlambat!” ungkapnya tegas.
Guru-guru yang merasa terlambat nyengir kuda. Acarapun dilanjutkan.
Mang lili bercerita bahwa sebagai putra desa, ia sekolah di sekolah biasa seperti kita.
“Di leuweung atuh…. Di Cikaliung.. (dari arah Sodong menuju Langan Sari)” katanya.
Pada saat itu sekolah yang dikelilingi kebon karet tersebut hanya ‘dihuni’ oleh beberapa siswa saja,. Dibandingkan sekolah-sekolah lain yang favorit , sekolah itu sangat jauh tertinggal.
Tapi…
“Disinilah kita diuji..kita mau belajar kan? Mau mencari ilmu? Bukan mencari banyaknya teman, dan gedung yang megah serta fasilitas yang lengkap”. Katanya .
Jadi dia bersungguh-sungguh belajar. Sepulang sekolah ia masih belajar lagi.
Maka ia mendatangi guru-guru senior untuk menuntaskan dahaganya dalam mencari ilmu. Dia menyebut Pak Muksin, pak Mahnun, dll.
Namun demikian tidak semua guru yang ia datangi merespon positif harapannya. Mungkin ia dianggap masih terlalu kecil untuk dianggap serius dalam mempelajari ilmu-ilmu yang sulit . Maka iapun melakukannya sendiri.
Dibacanya tafsir-tafsir Alquran, hadits-hadits, dan kitab-kitab kuning yang rumit. Dilawannya rasa malas dan kantuk. Ia belajar di sekolah di siang hari, ngaji di sore hari, dan membaca di tengah malam.
Setelah lulus, Alhamdulillah, Ia kemudian beruntung dapat melanjutkan sekolahnya di Mesir, sebuah tempat yang diidamkannya.
"Untuk dapat kuliah disini seseorang harus memenuhi kualifikasi tertentu. Selain kemampuan bahasa Arab yang fasih, juga kecakapan lain seperti menghafal Aquran dan pengetahuan umum. Hal ini hanya akan bisa dimiliki oleh mereka yang belajarnya sangat serius tentunya, bukan?
Selama empat tahun disana, ia tak jarang menemui kesulitan. Keuangannya terbatas sehingga ia kadang-kadang kelaparan. Jika sudah seperti ini, tak malu-malu ia mengerjakan apa saja yang akan mendapatkan uang sekedar untuk membeli sepotong roti atau sepiring nasi.
Ia mencuci piring di restoran, menjadi tukang parkir, ataupun mengerjakakan pekerjaan kasar lainnya. Padahal jika ia mau, bisa saja ia meminta orang tuanya mengirim kan uang untuknya. Orang tuanya adalah orang yang terbilang mampu, dan sangat concern terhadap pendidikan anak-anaknya.
Tapi itu tidak ia lakukan. Ia ingin melatih dirinya menjadi seorang pemuda yang tangguh dan mandiri.
Alhamdulillah, Ia dapat menyelesaikan sekolahnya tepat pada waktunya, dan pada usia muda (21 tahun?) ia telah selesai S2.
Subhanallah,
Pada saat banyak teman-teman seusianya sedang gandrung pada pola hidup santai, gemar membacarakan gaya hidup masa kini, mang Lili membuktikan bahwa ia bisa hidup lebih bermakna, dan tentunya merasa lebih gembira.
Mang Lili telah memberi contoh pada anak-anak muda lainnya bahwa dengan kesungguhan, dia dapat mengatasi berbagai kesulitan.
Inspiring!
Semoga siswa-siswa Madrasah Majau segera menyusul!
“Perkenalkan, Nama saya Lili Nahriri, Alamat Sodong, Pendidikan Aliyah Mathlaul Anwar, Al azhar Mesir, dan S2 PTIQ Jakarta.”
Ia memperkenalkan dirinya. Anak muda ini datang tepat waktu yang dijanjikan, tapi acara dialog tersebut mulai setangah jam sesudahnya. Dia harus menunggu para hadirin yang justru mengundangnya. (memalukan!)
“Bagaimana kita mau meningkatkan Kualitas Pendidikan kita, “ katanya memulai, “kalau guru-guru saja terbiasa datang terlambat, dan hari ini kita juga mulai acara dengan terlambat!” ungkapnya tegas.
Guru-guru yang merasa terlambat nyengir kuda. Acarapun dilanjutkan.
Mang lili bercerita bahwa sebagai putra desa, ia sekolah di sekolah biasa seperti kita.
“Di leuweung atuh…. Di Cikaliung.. (dari arah Sodong menuju Langan Sari)” katanya.
Pada saat itu sekolah yang dikelilingi kebon karet tersebut hanya ‘dihuni’ oleh beberapa siswa saja,. Dibandingkan sekolah-sekolah lain yang favorit , sekolah itu sangat jauh tertinggal.
Tapi…
“Disinilah kita diuji..kita mau belajar kan? Mau mencari ilmu? Bukan mencari banyaknya teman, dan gedung yang megah serta fasilitas yang lengkap”. Katanya .
Jadi dia bersungguh-sungguh belajar. Sepulang sekolah ia masih belajar lagi.
Maka ia mendatangi guru-guru senior untuk menuntaskan dahaganya dalam mencari ilmu. Dia menyebut Pak Muksin, pak Mahnun, dll.
Namun demikian tidak semua guru yang ia datangi merespon positif harapannya. Mungkin ia dianggap masih terlalu kecil untuk dianggap serius dalam mempelajari ilmu-ilmu yang sulit . Maka iapun melakukannya sendiri.
Dibacanya tafsir-tafsir Alquran, hadits-hadits, dan kitab-kitab kuning yang rumit. Dilawannya rasa malas dan kantuk. Ia belajar di sekolah di siang hari, ngaji di sore hari, dan membaca di tengah malam.
Setelah lulus, Alhamdulillah, Ia kemudian beruntung dapat melanjutkan sekolahnya di Mesir, sebuah tempat yang diidamkannya.
"Untuk dapat kuliah disini seseorang harus memenuhi kualifikasi tertentu. Selain kemampuan bahasa Arab yang fasih, juga kecakapan lain seperti menghafal Aquran dan pengetahuan umum. Hal ini hanya akan bisa dimiliki oleh mereka yang belajarnya sangat serius tentunya, bukan?
Selama empat tahun disana, ia tak jarang menemui kesulitan. Keuangannya terbatas sehingga ia kadang-kadang kelaparan. Jika sudah seperti ini, tak malu-malu ia mengerjakan apa saja yang akan mendapatkan uang sekedar untuk membeli sepotong roti atau sepiring nasi.
Ia mencuci piring di restoran, menjadi tukang parkir, ataupun mengerjakakan pekerjaan kasar lainnya. Padahal jika ia mau, bisa saja ia meminta orang tuanya mengirim kan uang untuknya. Orang tuanya adalah orang yang terbilang mampu, dan sangat concern terhadap pendidikan anak-anaknya.
Tapi itu tidak ia lakukan. Ia ingin melatih dirinya menjadi seorang pemuda yang tangguh dan mandiri.
Alhamdulillah, Ia dapat menyelesaikan sekolahnya tepat pada waktunya, dan pada usia muda (21 tahun?) ia telah selesai S2.
Subhanallah,
Pada saat banyak teman-teman seusianya sedang gandrung pada pola hidup santai, gemar membacarakan gaya hidup masa kini, mang Lili membuktikan bahwa ia bisa hidup lebih bermakna, dan tentunya merasa lebih gembira.
Mang Lili telah memberi contoh pada anak-anak muda lainnya bahwa dengan kesungguhan, dia dapat mengatasi berbagai kesulitan.
Inspiring!
Semoga siswa-siswa Madrasah Majau segera menyusul!
Rabu, 16 Maret 2011
WANITA SHALIHAH
Dikutip dari blog bukhari ibra (mohon izin ya..)
Wanita shalihah adalah sebaik-baik perhiasan dunia, mengalahkan tumpukan Emas, intan dan permata serta perhiasan dunia apapun. hanya wanita shalihlah yang mampu melahirkan generasi rabbani yang selalu siap memikul risalah Islamiyah menuju puncak kejayaan
Shalihah atau tidaknya seorang wanita bergantung ketaatannya pada aturan-aturan Allah. Aturan-aturan tersebut berlaku universal, bukan saja bagi wanita yang sudah menikah, tapi juga bagi remaja putri. mulialah wanita shalihah.
Di dunia, ia akan menjadi cahaya bagi keluarganya dan berperan melahirkan generasi dambaan. Jika ia wafat, Allah akan menjadikannya bidadari di surga. Kemuliaan wanita shalihah digambarkan Rasulullah Saw. dalam sabdanya, “Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah”.(HR.Muslim).
Dalam Al-Quran surat An-Nur: 30-31, Allah Swt. memberikan gambaran wanita shalihah sebagai wanita yang senantiasa mampu menjaga pandangannya. Ia selalu taat kepada Allah dan Rasul Nya. Make up- nya adalah basuhan air wudhu. Lipstiknya adalah dzikir kepada Allah. Celak matanya adalah memperbanyak bacaan Al-Quran.
Wanita shalihah sangat memperhatikan kualitas kata-katanya. Tidak ada dalam sejarahnya seorang wanita shalihah centil, suka jingkrak-jingkrak, dan menjerit-jerit saat mendapatkan kesenangan. Ia akan sangat menjaga setiap tutur katanya agar bernilai bagaikan untaian intan yang penuh makna dan bermutu tinggi. Dia sadar betul bahwa kemuliaannya bersumber dari kemampuannya menjaga diri (iffah).
Wanita shalihah itu murah senyum. Baginya, senyum adalah shadaqah. Namun, senyumnya tetap proporsional. Tidak setiap laki-laki yang dijumpainya diberikan senyuman manis. Senyumnya adalah senyum ibadah yang ikhlas dan tidak menimbulkan fitnah bagi orang lain.
Wanita shalihah juga pintar dalam bergaul. Dengan pergaulan itu, ilmunya akan terus bertambah. Ia akan selalu mengambil hikmah dari orang-orang yang ia temui. Kedekatannya kepada Allah semakin baik dan akan berbuah kebaikan bagi dirinya maupun orang lain. Ia juga selalu menjaga akhlaknya.
Salah satu ciri bahwa imannya kuat adalah kemampuannya memelihara rasamalu. Dengan adanya rasa malu, segala tutur kata dan tindak tanduknya selalu terkontrol. Ia tidak akan berbuat sesuatu yang menyimpang dari bimbingan Al-Quran dan Sunnah. Ia sadar bahwa semakin kurang iman seseorang, makin kurang rasa malunya. Semakin kurang rasa malunya, makin buruk kualitas akhlaknya.
Pada prinsipnya, wanita shalihah adalah wanita yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Rambu-rambu kemuliaannya bukan dari aneka aksesoris yang ia gunakan. Justru ia selalu menjaga kecantikan dirinya agar tidak menjadi fitnah bagi orang lain. Kecantikan satu saat bisa jadi anugerah yang bernilai. Tapi jika tidak hati-hati, kecantikan bisa jadi sumber masalah yang akan menyulitkan pemiliknya sendiri.
Saat mendapat keterbatasan fisik pada dirinya, wanita shalihah tidak akan pernah merasa kecewa dan sakit hati. Ia yakin bahwa kekecewaan adalah bagian dari sikap kufur nikmat. Dia tidak akan merasa minder dengan keterbatasannya. Pribadinya begitu indah sehingga make upapa pun yang dipakainya akan memancarkan cahaya kemuliaan. Bahkan, kalaupun ia “polos” tanpa make up sedikit pun, kecantikan jiwanya akan tetap terpancar dan menyejukkan hati orang-orang di sekitarnya.
Jika ingin menjadi wanita shalihah, maka belajarlah dari lingkungan sekitar dan orang-orang yang kita temui. Ambil ilmunya dari mereka. Bahkan kita bisa mencontoh istri-istri Rasulullah Saw. seperti Aisyah. Ia terkenal dengan kekuatan pikirannya. Seorang istri seperti beliau bisa dijadikan gudang ilmu bagi suami dan anak-anak.
Contoh pula Siti Khadijah, figur istri shalihah penentram batin, pendukung setia, dan penguat semangat suami dalam berjuang di jalan Allah Swt. Beliau berkorban harta, kedudukan, dan dirinya demi membela perjuangan Rasulullah. Begitu kuatnya kesan keshalihahan Khadijah, hingga nama beliau banyak disebut-sebut oleh Rasulullah walau Khadijah sendiri sudah meninggal.
Bisa jadi wanita shalihah muncul dari sebab keturunan. Seorang pelajar yang baik akhlak dan tutur katanya, bisa jadi gambaran seorang ibu yang mendidiknya menjadi manusia berakhlak. Sulit membayangkan, seorang wanita shalihah ujug-ujug muncul tanpa didahului sebuah proses. Di sini, faktor keturunan memainkan peran. Begitu pun dengan pola pendidikan, lingkungan, keteladanan, dan lain-lain. Apa yang tampak, bisa menjadi gambaran bagi sesuatu yang tersembunyi. Banyak wanita bisa sukses.
Namun tidak semua bisa shalihah. Shalihah atau tidaknya seorang wanita bergantung ketaatannya pada aturan-aturan Allah. Aturan-aturan tersebut berlaku universal, bukan saja bagi wanita yang sudah menikah, tapi juga bagi remaja putri.
Tidak akan rugi jika seorang remaja putri menjaga sikapnya saat mereka berinteraksi dengan lawan jenis yang bukan mahramnya. Bertemanlah dengan orang-orang yang akan menambah kualitas ilmu, amal, dan ibadah kita. Ada sebuah ungkapan mengatakan, “Jika kita ingin mengenal pribadi seseorang maka lihatlah teman-teman disekelilingnya. ”
Peran wanita shalihah sangat besar dalam keluarga, bahkan negara. Kita pernah mendengar bahwa di belakang seorang pemimpin yang sukses ada seorang wanita yang sangat hebat. Jika wanita shalihah ada di belakang para lelaki di dunia ini, maka berapa banyak kesuksesan yang akan diraih. Selama ini, wanita hanya ditempatkan sebagai pelengkap saja, yaitu hanya mendukung dari belakang, tanpa peran tertentu yang serius.
Wanita adalah tiang Negara. Bayangkanlah, jika tiang penopang bangunan itu rapuh, maka sudah pasti bangunannya akan roboh dan rata dengan tanah. Tidak akan ada lagi yang tersisa kecuali puing-puing yang nilainya tidak seberapa.
Kita tinggal memilih, apakah akan menjadi tiang yang kuat atau tiang yang rapuh? Jika ingin menjadi tiang yang kuat, kaum wanita harus terus berusaha menjadi wanita shalihah dengan mencontoh pribadi istri-istri Rasulullah. Dengan terus berusaha menjaga kehormatan diri dan keluarga serta memelihara farji-nya, maka pesona wanita shalihah akan melekat pada diri kaum wanita.
Beruntunglah bagi setiap lelaki yang memiliki istri shalehah, sebab ia bisa membantu memelihara akidah dan ibadah suaminya. Rasulullah bersabda, ”Barangsiapa diberi istri yang shalehah, sesungguhnya ia telah diberi pertolongan (untuk) meraih separuh agamanya. Kemudian hendaklah ia bertakwa kepada Allah dalam memelihara separuh lainnya.” (HR Thabrani dan Hakim).
Wanita shalihah adalah sebaik-baik perhiasan dunia, mengalahkan tumpukan Emas, intan dan permata serta perhiasan dunia apapun. hanya wanita shalihlah yang mampu melahirkan generasi rabbani yang selalu siap memikul risalah Islamiyah menuju puncak kejayaan
Shalihah atau tidaknya seorang wanita bergantung ketaatannya pada aturan-aturan Allah. Aturan-aturan tersebut berlaku universal, bukan saja bagi wanita yang sudah menikah, tapi juga bagi remaja putri. mulialah wanita shalihah.
Di dunia, ia akan menjadi cahaya bagi keluarganya dan berperan melahirkan generasi dambaan. Jika ia wafat, Allah akan menjadikannya bidadari di surga. Kemuliaan wanita shalihah digambarkan Rasulullah Saw. dalam sabdanya, “Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah”.(HR.Muslim).
Dalam Al-Quran surat An-Nur: 30-31, Allah Swt. memberikan gambaran wanita shalihah sebagai wanita yang senantiasa mampu menjaga pandangannya. Ia selalu taat kepada Allah dan Rasul Nya. Make up- nya adalah basuhan air wudhu. Lipstiknya adalah dzikir kepada Allah. Celak matanya adalah memperbanyak bacaan Al-Quran.
Wanita shalihah sangat memperhatikan kualitas kata-katanya. Tidak ada dalam sejarahnya seorang wanita shalihah centil, suka jingkrak-jingkrak, dan menjerit-jerit saat mendapatkan kesenangan. Ia akan sangat menjaga setiap tutur katanya agar bernilai bagaikan untaian intan yang penuh makna dan bermutu tinggi. Dia sadar betul bahwa kemuliaannya bersumber dari kemampuannya menjaga diri (iffah).
Wanita shalihah itu murah senyum. Baginya, senyum adalah shadaqah. Namun, senyumnya tetap proporsional. Tidak setiap laki-laki yang dijumpainya diberikan senyuman manis. Senyumnya adalah senyum ibadah yang ikhlas dan tidak menimbulkan fitnah bagi orang lain.
Wanita shalihah juga pintar dalam bergaul. Dengan pergaulan itu, ilmunya akan terus bertambah. Ia akan selalu mengambil hikmah dari orang-orang yang ia temui. Kedekatannya kepada Allah semakin baik dan akan berbuah kebaikan bagi dirinya maupun orang lain. Ia juga selalu menjaga akhlaknya.
Salah satu ciri bahwa imannya kuat adalah kemampuannya memelihara rasamalu. Dengan adanya rasa malu, segala tutur kata dan tindak tanduknya selalu terkontrol. Ia tidak akan berbuat sesuatu yang menyimpang dari bimbingan Al-Quran dan Sunnah. Ia sadar bahwa semakin kurang iman seseorang, makin kurang rasa malunya. Semakin kurang rasa malunya, makin buruk kualitas akhlaknya.
Pada prinsipnya, wanita shalihah adalah wanita yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Rambu-rambu kemuliaannya bukan dari aneka aksesoris yang ia gunakan. Justru ia selalu menjaga kecantikan dirinya agar tidak menjadi fitnah bagi orang lain. Kecantikan satu saat bisa jadi anugerah yang bernilai. Tapi jika tidak hati-hati, kecantikan bisa jadi sumber masalah yang akan menyulitkan pemiliknya sendiri.
Saat mendapat keterbatasan fisik pada dirinya, wanita shalihah tidak akan pernah merasa kecewa dan sakit hati. Ia yakin bahwa kekecewaan adalah bagian dari sikap kufur nikmat. Dia tidak akan merasa minder dengan keterbatasannya. Pribadinya begitu indah sehingga make upapa pun yang dipakainya akan memancarkan cahaya kemuliaan. Bahkan, kalaupun ia “polos” tanpa make up sedikit pun, kecantikan jiwanya akan tetap terpancar dan menyejukkan hati orang-orang di sekitarnya.
Jika ingin menjadi wanita shalihah, maka belajarlah dari lingkungan sekitar dan orang-orang yang kita temui. Ambil ilmunya dari mereka. Bahkan kita bisa mencontoh istri-istri Rasulullah Saw. seperti Aisyah. Ia terkenal dengan kekuatan pikirannya. Seorang istri seperti beliau bisa dijadikan gudang ilmu bagi suami dan anak-anak.
Contoh pula Siti Khadijah, figur istri shalihah penentram batin, pendukung setia, dan penguat semangat suami dalam berjuang di jalan Allah Swt. Beliau berkorban harta, kedudukan, dan dirinya demi membela perjuangan Rasulullah. Begitu kuatnya kesan keshalihahan Khadijah, hingga nama beliau banyak disebut-sebut oleh Rasulullah walau Khadijah sendiri sudah meninggal.
Bisa jadi wanita shalihah muncul dari sebab keturunan. Seorang pelajar yang baik akhlak dan tutur katanya, bisa jadi gambaran seorang ibu yang mendidiknya menjadi manusia berakhlak. Sulit membayangkan, seorang wanita shalihah ujug-ujug muncul tanpa didahului sebuah proses. Di sini, faktor keturunan memainkan peran. Begitu pun dengan pola pendidikan, lingkungan, keteladanan, dan lain-lain. Apa yang tampak, bisa menjadi gambaran bagi sesuatu yang tersembunyi. Banyak wanita bisa sukses.
Namun tidak semua bisa shalihah. Shalihah atau tidaknya seorang wanita bergantung ketaatannya pada aturan-aturan Allah. Aturan-aturan tersebut berlaku universal, bukan saja bagi wanita yang sudah menikah, tapi juga bagi remaja putri.
Tidak akan rugi jika seorang remaja putri menjaga sikapnya saat mereka berinteraksi dengan lawan jenis yang bukan mahramnya. Bertemanlah dengan orang-orang yang akan menambah kualitas ilmu, amal, dan ibadah kita. Ada sebuah ungkapan mengatakan, “Jika kita ingin mengenal pribadi seseorang maka lihatlah teman-teman disekelilingnya. ”
Peran wanita shalihah sangat besar dalam keluarga, bahkan negara. Kita pernah mendengar bahwa di belakang seorang pemimpin yang sukses ada seorang wanita yang sangat hebat. Jika wanita shalihah ada di belakang para lelaki di dunia ini, maka berapa banyak kesuksesan yang akan diraih. Selama ini, wanita hanya ditempatkan sebagai pelengkap saja, yaitu hanya mendukung dari belakang, tanpa peran tertentu yang serius.
Wanita adalah tiang Negara. Bayangkanlah, jika tiang penopang bangunan itu rapuh, maka sudah pasti bangunannya akan roboh dan rata dengan tanah. Tidak akan ada lagi yang tersisa kecuali puing-puing yang nilainya tidak seberapa.
Kita tinggal memilih, apakah akan menjadi tiang yang kuat atau tiang yang rapuh? Jika ingin menjadi tiang yang kuat, kaum wanita harus terus berusaha menjadi wanita shalihah dengan mencontoh pribadi istri-istri Rasulullah. Dengan terus berusaha menjaga kehormatan diri dan keluarga serta memelihara farji-nya, maka pesona wanita shalihah akan melekat pada diri kaum wanita.
Beruntunglah bagi setiap lelaki yang memiliki istri shalehah, sebab ia bisa membantu memelihara akidah dan ibadah suaminya. Rasulullah bersabda, ”Barangsiapa diberi istri yang shalehah, sesungguhnya ia telah diberi pertolongan (untuk) meraih separuh agamanya. Kemudian hendaklah ia bertakwa kepada Allah dalam memelihara separuh lainnya.” (HR Thabrani dan Hakim).
Langganan:
Postingan (Atom)
