Naik kereta bisnis ke luar kota mungkin hal yang biasa buat sebagian orang. Tapi perjalanan ini terasa spesial bagiku. Ya.. perjalanan kereta malam menuju Jogja untuk mengantar anakku belajar disana.
Diantar Wa Memen dan Cinta, aku berangkat menuju stasiun Senen, membawa perbekalan secukupnya. Teta, Fifi juga mengantarkan kami ke stasiun terdekat (Sudimara) dengan motor mereka. Perjalanan yang mendebarkan dan penuh harapan, karena terselip doa semoga manakku dapat menyongsong keberhasilan di tempat barunya nanti.
Semoga harapan yang membuncah ini tidak mengganggu konsentrasi anakku, sehingga dia dapat memahami "keberhasilan" yang kumaksud. Aku menginginkan dia berhasil menapaki setiap jejak langkahnya dengan aman dan lancar, dapat mencari solusi dari setiap persoalan hidupnya sehari-hari, baik dari sisi akademis, psikis, maupun sosialnya.
Berangkat jam 19.30 malam, kereta berjalan dengan cepat dan lancar. Perjalanan ini memerlukan waktu 10 jam; waktu yang cukup untuk mengumpulkan rencana-rencana baik buat anakku, membulatkan tekad, dan meluruskan niat. Sepanjang jalan di sela-sela lelapku, aku mereka-reka bagaimana atmosfer UGM dan Jogja dan dampaknya buat anakku, yang sejak TK sampai SMA belum pernah "keluar" dari rumah.
Sebaliknya, aku juga cukup cemas memikirkan bagaima pola pikir anakku serta kebiasaan-kebiasaan dia, yang baik ataupun yang jelek, menyiasati kondisi sosial akademis Jogja dan UGM-nya.
Aku tersenyum ketika mengingat slogan bahwa Jogja adalah kota pelajar Nasional, dimana puluhan ribu mahasiswa hilir mudik menimba ilmu di puluhan universitas yang berkualitas, namun senyumku hilang saat teringat bacaan di Kompas berdasarkan hasil survey bahwa kehidupan bebas sudah "sangat biasa" disana.Astaghfirullah, aku bergidik mengingatnya bila hasil survey itu benar. Na'udzu billahi min dzalik..
Pagi menjelang ketika kami tiba di Stasiun Tugu Jogjakarta. Sepi dan bersih. Anakku tidak berhenti tersenyum . Kami melanjutkan peralanan dengan taxi menuju rumah kos Oim yang beberapa hari lalu sudah dicarinya .
Bergegas kami sarapan dan menyimpan barang-barang kami sembarangan di kosan Oim. Aku, Cinta dan Uwak langsung belanja diantar kenalan disana; setrikaan, magic com, tikar, kertas hvs, gayung, keset... sementara Oim melakukan daftar ulang untuk Masa Orientasi.
Hufh... berpeluh kami mengangkut dan membereskan barang-barang itu. Oim asyik di kampus sampai larut malam. Sore harinya si Uwak minta diri untuk langsung pulang ke Rangkasbitung, sementara aku dan Cinta menginap.
Keesokan harinya pagi-pagi sekali Oim berangkat ke kampus. Sementara kami belakangan naik becak. wah... merinding aku melihat kampus yang begitu besar dan luas. Di lapangan sudah berkumpul ribuan mahasiswa dari berbagai daerah, senior dan junior. Si Senior menampilkan berbagai atraksi selamat datang; Marching band, silat, terbang layang dan lain-lain, si Junior berbaris melingkari lapangan itu, menonton pertunjukan yang sangat bagus dan terencana.
Menurut Mc, Semua penampilan itu adalah presentasi dari ekstra kurikuler Kampus untuk menyambut orang tua mahasiswa baru, sekaligus menawarkan beragam eskul itu untuk dipilih sang mahasiswa.
UGM benar-benar menyambut kami, orang tua dari daerah-daerah ini dengan baik. Setelah menonton pertunjukan tadi, kami digiring menuju hall sesuai fakultas anaknya masing-masing. Disana para pengabdi ilmu, mulai dari pustakawan, pengajar, sampai rektor diperkenalkan. Ada juga testimoni dari orang tua mahasiswa plus saran dan kritiknya, serta cerita seorang tukang becak yang anaknya sudah lulus jadi dokter. Rektor UGM memberikan kata sambutan dan mengumumkan agar mahasiswa mengajukan beasiswa bagi mereka yang memerlukannya.
Sekitar jam duabelas, acara perkenalan usai. Haa.. Cinta mulai merengek minta makan, begitu juga perutku sudah menagih isi. Panas menyergap diluar gedung. Aku keluar untuk kembali ke kosan Oim, dan cari makan siang.
Eh.. ternyata acara belum selesai :(
Kami diminta masuk ke ruangan lain yaitu ke gedung kelas masing-masing... wah bagaimana nih... perut lapar... (sempat sebel juga sama panitia).Tapi pikir2, kapan lagi aku kesini... akhirnya aku manut saja, ikut iring-iringan orang tua lain menuju tempat masing-masing. Siapa tahu juga ada info penting, ya kan?
Sesaat menuju pintu ruangan, kami mencium aroma makanan yang begitu menggoda, menimbulkan air liur si pelapar ini, dan ternyata sumber aroma itu ada didalam ruang kelas anak-anak kami, terhidang dengan rapi dan cukup banyak. Gulai ayam panas yang (mungkin) khas Jogja, serta ketupat lengkap dengan keupuk dan bawang gorengnya. Minumannya jus jeruk dan jambu yang sejuk dingin, terlihat dalam toples besar transparan menyebulkan butiran-butiran uap es diluar tekonya. Ah... mungkinkah itu buat kami?
Panitia berbatik-batik aneka warna tersenyum menyambut kami dipintu.. "Monggooo... Silakan... selamat makan ibu dan bapak" kata mereka ramah.
Heh? bener nich? Tidak menunggu lama, kami mengantre prasmanan yang lezat itu.. wah.. bagiku ini merupakan kejutan-kejutan yang nikmat.
Setelah selesai, aku shalat di mushalla terdekat, lalu sebentar ikut sesi perkenalan jurusan. Setengah menyesal aku dan Cinta kabur karena harus ke pasar lagi membelikan sepeda buat Oim kuliah.
Ditemani mbak Rini yang pernah mengajar satu sekolah denganku, kami mendapat sepeda UNITED seharga 1,3 Juta di pasar. Eh.. belanjaku banyak juga yah? padahal kemarin sdh banyak juga belanja berbagai barang buat Oim doang. tapi alhamdulillah tuh cukup, dan aku merasa ringan aja, karena aku yakin itu rejekinya Oim. Untuk yang laen, cari lagi.. masih banyak di Alloh, hehehe.
Do you know pemirsa? ga ada losbak yang mau bawa sepeda si Oim. Gowes aja.. kata si ngkoh pedagang.. kan ada rodanya?! huh enak aja, bukannya dianter.. kataku menggerutu. Sebenarnya aku bisa naek sepeda, tapi dengan Cinta ? di kota gudeg yang belum aku kenal? akhirnya kami naik becak dengan sepeda buesar diiket ke depan becak.
Bayangkan betapa beratnya si kakek becak mengayuh kami dan sepeda, menyusuri jalan yang kadang ada turun nanjaknya. wesh.. wesh... walhasil, aturan sepuluh menit sampei, mungkin kami baru tiba setelah setengah jam berbecaksepedaria.
Alhamdulillah.................. (narik nafas)
Semuanya beres. setelah mandi sore, kami langsung ke stasiun Tugu untuk kembali ke Jakarta
Minggu, 04 Maret 2012
Kamis, 02 Februari 2012
Melaju Bersama Bebek
Seperti biasa pagi itu aku mengejar kereta pagi, jam 06.00. alhamdulillah dapat kereta ekonomi tepat pada waktunya. Kereta padat penumpang. Kami berebut masuk, mendesak orang-orang yang berdiri di pintu.
"Ayo doong masuuk ke dalam.. biar kita juga bisa.." kata ibu-ibu berpakaian rapi di depanku. Wangi parfum menyebar dari kerudungnya yang berwarna ungu. Orang-orang yang sebelumnya sudah berada di pintu kereta itu berusaha bergeser walaupun hanya satu dua senti .
"Terus dong.. ayo mama.. maju!! kata anakku di belakangku sambil mendorongku. Berjejal-jejal kami berusaha masuk. Pintu di persambungan kereta itu sudah tidak menyisakan space untuk diinjak, sebenarnya. Tetapi ajaib, tetap saja masih bisa memuat orang begitu banyak.
Bukan hanya itu, rupanya, selain penumpang, ternyata di pintu itu juga ada 2 (baca : dua) kurungan bebek yang masing-masing memuat sekitar 7 sampai sepuluh ekor. Dengan semangat "pantang menyerah", mati-matian kami berusaha melewati kurungan bebek yang terbuat dari bambu itu .
"Injak aja, bambunya kuat kok!" teriak seseorang, yang mungkin pemilik bebek-bebek itu. Hiruk-pikuk dan sumpah serapah manusia-manusia pencari berkah Tuhan itu bersatu padu, berirama merdu seperti lagu-lagu simfoni Bethoven.
Kuiiiiiiiiiiiiik... gujes..gujes.....
Kereta mulai bergerak.. puji syukur pada Tuhan karena kami sudah didalam. Beberapa penumpang yg dipintu tadi mengikhlaskan sebelah kakinya keluar dari pintu, sambil sebelah tangannya bepegangan ke atap pintu kereta, suatu posisi yang berbahaya sebenarnya.
Namun mereka tak peduli. Rasa syukur dapat terangkut kereta mengalahkan rasa takut. Yang penting sampai ke tujuan.
Aku berdiri hanya setengah meter-an dari batas pintu, persis disebelah kurungan bebek tadi, berdekatan dengan ibu kerudung ungu dan seorang anak SMK. Anakku berdiri agak jauh dariku, cemberut, mungkin membayangkan kalau-kalau ia telat sampai di sekolahnya nanti.
Lantai kereta yang kuinjak digenangi air bebek. Si gadis SMK mengangkat rok abu-abunya. Ibu ungu menutup hidungnya. Aku memejamkan mata, merasa heran kenapa aku tumben, tidak mengeluh. Aku berkomat-kamit berdoa penuh syukur karena tidak harus menunggu kereta berikutnya. Mungkin karena sudah biasa menderita (ehm), aku tidak terlalu galau dengan keadaanku di pagi itu.
Everything is ok now. kereta melaju dengan cepat, berderak-derak, mengoncang-goncangkan kami yang sudah mulai anteng. Mataku mulai mengelana ke seluruh penjuru gerbong. Di kolong kursi-kursi penumpang,ternyata masih ada kelompok bebek-bebek lainnya, tanpa dikurung.
Diikat kakinya satu sama lain, mereka diam, nurut, dan anteng.. seperti kami para penumpang kereta yang kini merasa safe didalamnya; diam, nurut, dan anteng, menanti takdir di terminal yang akan kami tempuh kelak. Begitulah tabiat khas kami orang Indonesia; cepat memaafkan keadaan, mudah ditenangkan.
Begitupun ketika aku naik tadi, aku melihat orang-orang yang awalnya panik, khawatir, dan terlihat saling menyikut, kemudian menjadi pasrah dan tenang; mereka duduk berjejer-jejer dan berdiri berjejal-jejal diatas kereta kelabu itu, memburu sekeping-dua keping uang recehan melalui pekerjaan halus atau kasar di kota metropolitan.
Mereka duduk dengan antengnya, sambil mengobrol dan merokok; bahkan bercanda-canda. Tak ada keluhan, tak peduli dengan cuaca, atau bahaya tegangan tinggi kabel listrik KRL sepanjang rel kereta Serpong-Jakarta itu.
Selop high heelsku (you know what? in such a train aku pakai sendal semacam itu?) menyelamatkan celana panjang seragam ngajarku dari air-air bebek yang menggenang itu. Jangan tanya aromanya. Yang pasti, ini akan menghairankan orang-orang yang belum pernah naik kereta seperti ini jika aku ceritakan.
Kebayoran Lama.
Tibalah saatnya aku dan anakku turun. Tiba-tiba saja, secepat kilat si bapak pemilik bebek mengangkat bebek yang diikat-ikat tadi, mendahului kami menerobos kepadatan penumpang dengan tetesan air bebeknya, menyisakan aroma khasnya, dan sangat mungkin sedikit banyak menyipratkan tetesan dari kaki-kaki si bebek yang lembut itu, tak peduli pada kami yang yang harus berpenampilan bersih di tempat belajar atau bekerja nanti .
"Apa peduliku?" mungkin itu kata si pemilik bebek. "Aku kan cuma mau cepat turun ke pasar menjual bebek-bebekku" !!!!).
Penumpang yang ada di belakangnya, yang juga mau turun, tentu saja protes. Mereka berteriak-teriak menyuruh bapak bebek untuk segera lompat. Didepanku si ibu kerudung ungu berusaha melewati kurungan bebek yang cukup lebar itu. Roknya disingkapkannya. Dorongan dari belakang semakin mendesakku, aku oleng, menabrak si ibu kerudung ungu didepanku. Tapi si ibu kerudung ungu malah berhenti melangkah, dan hampir saja jatuh terjerembab ke kandang bebek..
Kami semua kuatir kereta segera beranjak. sementara si ibu ungu masih sibuk memasukkan tangannya ke dalam kandang bebek, mengais-ngais isinya.
"Ngapain sih bu?" kata bapak-bapak di belakangnku, meninggikan kepalanya melewati kepalaku, menghembuskan aroma entah bau jengkol atau pete atau kombinasi aroma keduanya.
Dengan kesal dan malu si ibu menjawab, "Sendal saya, masuk ke kurungan bebek!"
Petugas stasiun meniup pluit tanda kereta harus segera melanjutkan perjalanan. PENUMPANG YANG MAU TURUN MAKIN PANIK.
"Woyy... Cepet!!"
Hup.. Ibu yang malang itu berhasil mengeluarkan selopnya lalu segera turun setengah melompat dari pintu,disusul bapak bebek, kandang bebek beserta isinya , aku, dan puluhan penumpang dibelakangku tadi.
Huh hampir saja aku kebawa kereta!!! (Cape dech!)
Salam buat Oim si (calon) pemilik resto Bebekofi
"Ayo doong masuuk ke dalam.. biar kita juga bisa.." kata ibu-ibu berpakaian rapi di depanku. Wangi parfum menyebar dari kerudungnya yang berwarna ungu. Orang-orang yang sebelumnya sudah berada di pintu kereta itu berusaha bergeser walaupun hanya satu dua senti .
"Terus dong.. ayo mama.. maju!! kata anakku di belakangku sambil mendorongku. Berjejal-jejal kami berusaha masuk. Pintu di persambungan kereta itu sudah tidak menyisakan space untuk diinjak, sebenarnya. Tetapi ajaib, tetap saja masih bisa memuat orang begitu banyak.
Bukan hanya itu, rupanya, selain penumpang, ternyata di pintu itu juga ada 2 (baca : dua) kurungan bebek yang masing-masing memuat sekitar 7 sampai sepuluh ekor. Dengan semangat "pantang menyerah", mati-matian kami berusaha melewati kurungan bebek yang terbuat dari bambu itu .
"Injak aja, bambunya kuat kok!" teriak seseorang, yang mungkin pemilik bebek-bebek itu. Hiruk-pikuk dan sumpah serapah manusia-manusia pencari berkah Tuhan itu bersatu padu, berirama merdu seperti lagu-lagu simfoni Bethoven.
Kuiiiiiiiiiiiiik... gujes..gujes.....
Kereta mulai bergerak.. puji syukur pada Tuhan karena kami sudah didalam. Beberapa penumpang yg dipintu tadi mengikhlaskan sebelah kakinya keluar dari pintu, sambil sebelah tangannya bepegangan ke atap pintu kereta, suatu posisi yang berbahaya sebenarnya.
Namun mereka tak peduli. Rasa syukur dapat terangkut kereta mengalahkan rasa takut. Yang penting sampai ke tujuan.
Aku berdiri hanya setengah meter-an dari batas pintu, persis disebelah kurungan bebek tadi, berdekatan dengan ibu kerudung ungu dan seorang anak SMK. Anakku berdiri agak jauh dariku, cemberut, mungkin membayangkan kalau-kalau ia telat sampai di sekolahnya nanti.
Lantai kereta yang kuinjak digenangi air bebek. Si gadis SMK mengangkat rok abu-abunya. Ibu ungu menutup hidungnya. Aku memejamkan mata, merasa heran kenapa aku tumben, tidak mengeluh. Aku berkomat-kamit berdoa penuh syukur karena tidak harus menunggu kereta berikutnya. Mungkin karena sudah biasa menderita (ehm), aku tidak terlalu galau dengan keadaanku di pagi itu.
Everything is ok now. kereta melaju dengan cepat, berderak-derak, mengoncang-goncangkan kami yang sudah mulai anteng. Mataku mulai mengelana ke seluruh penjuru gerbong. Di kolong kursi-kursi penumpang,ternyata masih ada kelompok bebek-bebek lainnya, tanpa dikurung.
Diikat kakinya satu sama lain, mereka diam, nurut, dan anteng.. seperti kami para penumpang kereta yang kini merasa safe didalamnya; diam, nurut, dan anteng, menanti takdir di terminal yang akan kami tempuh kelak. Begitulah tabiat khas kami orang Indonesia; cepat memaafkan keadaan, mudah ditenangkan.
Begitupun ketika aku naik tadi, aku melihat orang-orang yang awalnya panik, khawatir, dan terlihat saling menyikut, kemudian menjadi pasrah dan tenang; mereka duduk berjejer-jejer dan berdiri berjejal-jejal diatas kereta kelabu itu, memburu sekeping-dua keping uang recehan melalui pekerjaan halus atau kasar di kota metropolitan.
Mereka duduk dengan antengnya, sambil mengobrol dan merokok; bahkan bercanda-canda. Tak ada keluhan, tak peduli dengan cuaca, atau bahaya tegangan tinggi kabel listrik KRL sepanjang rel kereta Serpong-Jakarta itu.
Selop high heelsku (you know what? in such a train aku pakai sendal semacam itu?) menyelamatkan celana panjang seragam ngajarku dari air-air bebek yang menggenang itu. Jangan tanya aromanya. Yang pasti, ini akan menghairankan orang-orang yang belum pernah naik kereta seperti ini jika aku ceritakan.
Kebayoran Lama.
Tibalah saatnya aku dan anakku turun. Tiba-tiba saja, secepat kilat si bapak pemilik bebek mengangkat bebek yang diikat-ikat tadi, mendahului kami menerobos kepadatan penumpang dengan tetesan air bebeknya, menyisakan aroma khasnya, dan sangat mungkin sedikit banyak menyipratkan tetesan dari kaki-kaki si bebek yang lembut itu, tak peduli pada kami yang yang harus berpenampilan bersih di tempat belajar atau bekerja nanti .
"Apa peduliku?" mungkin itu kata si pemilik bebek. "Aku kan cuma mau cepat turun ke pasar menjual bebek-bebekku" !!!!).
Penumpang yang ada di belakangnya, yang juga mau turun, tentu saja protes. Mereka berteriak-teriak menyuruh bapak bebek untuk segera lompat. Didepanku si ibu kerudung ungu berusaha melewati kurungan bebek yang cukup lebar itu. Roknya disingkapkannya. Dorongan dari belakang semakin mendesakku, aku oleng, menabrak si ibu kerudung ungu didepanku. Tapi si ibu kerudung ungu malah berhenti melangkah, dan hampir saja jatuh terjerembab ke kandang bebek..
Kami semua kuatir kereta segera beranjak. sementara si ibu ungu masih sibuk memasukkan tangannya ke dalam kandang bebek, mengais-ngais isinya.
"Ngapain sih bu?" kata bapak-bapak di belakangnku, meninggikan kepalanya melewati kepalaku, menghembuskan aroma entah bau jengkol atau pete atau kombinasi aroma keduanya.
Dengan kesal dan malu si ibu menjawab, "Sendal saya, masuk ke kurungan bebek!"
Petugas stasiun meniup pluit tanda kereta harus segera melanjutkan perjalanan. PENUMPANG YANG MAU TURUN MAKIN PANIK.
"Woyy... Cepet!!"
Hup.. Ibu yang malang itu berhasil mengeluarkan selopnya lalu segera turun setengah melompat dari pintu,disusul bapak bebek, kandang bebek beserta isinya , aku, dan puluhan penumpang dibelakangku tadi.
Huh hampir saja aku kebawa kereta!!! (Cape dech!)
Salam buat Oim si (calon) pemilik resto Bebekofi
Senin, 23 Januari 2012
Apa dan Ibu
Ini cerita tentang seorang ayah. Bukan, bukan ayah saya sendiri, tapi ayah biologis orang lain, yang saya anggap ayah motivasi, karena beliau menginspirasi sebagian dari kehidupan saya, walaupun bisa dipastikan hal ini beliau tidak sadari.
Kami memanggilnya “Apa”, sebuah panggilan seorang anak dalam bahasa Sunda kepada ayahnya.
“Apa” juga bisa berarti kependekan dari Bapak, atau mungkin juga panggilan kesayangan seorang anak terhadap ayahnya. Kawan mau tahu? Wajah Apa sejuk, smily, dan ramah pada setiap orang yang dikenalnya.
Apa memiliki 6 orang anak; Ali Nurdin, Mohammad Zen, Yoyoh, ‘Ai, Nunung, dan Asep. Semuanya sehat, cerdas dan menonjol di sekolah masing-masing.
Dan Ibu, istri Apa, adalah seorang ibu rumah tangga, wanita desa penyabar dan sederhana, namun amat cerdas. Kecerdasan itulah yang nampaknya menurun pada keenam putera-puteri mereka, yang mengantarkan mereka pada pengalaman belajar mereka berikutnya.
Apa ibu, dan keluarga tinggal di Kacapi Amis, sebuah kampung di kecamatan Menes, Pandegelang, Banten bagian Selatan. Kampung ini didominasi hasil tanaman berupa tropical fruits yang tak henti-hentinya berbuah, bergantian, dari musim ke musim, memenuhi kebutuhan keluarga Apa dan penduduk kampung lainnya.
Dikelilingi pelbagai macam pohon tropis yang rimbun tadi; melinjo, salak , durian, nangka, jambu air, kesemek, kelapa, lobi-lobi, kacapi, serta tanaman bunga-bungaan olahan tangan ibu, rumah Apa dan Ibu sangat sejuk dan asri.
Jika musim buah tiba, Apa dan Ibu memetik hasil kebun dan menjadikannya sebagai bekal untuk Yoyoh di Ciputat, atau Ali Nurdin di Bandung. Mungkin berkat buah-buahan karunia Allah ini juga anak-anak apa sangat cerdas di sekolahnya.
Apa memanggil anak-anaknya dengan panggilan sayang; "nu kaseeeep, nu geuliiis, nu pinteeer, sehingga anak-anak itu terlihat sangat dekat dengannya; merasa tersanjung dan tersemangati untuk benar-benar menjadi kasep, geulis dan pinter. (Ceuk nabi tea geh, kata-kata adalah doa/ you‘re what you say !)
Sepengetahuan saya, Apa jarang sekali marah, entah itu sifat dasarnya, atau karena saya belum pernah melihatnya saja. Mungkin apa akan marah hanya kalau anaknya gupak dina leutak, sampai lupa makan siang , atau kalau anak lelakinya main dan pulang larut malam.
Di pagi hari apa bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil di Departemen Agama Kecamatan, Lalu di sore harinya apa memeriksa kebunnya yang cukup luas yang terletak tak jauh dari rumahnya.
Jika salah seorang anak Apa pulang dari tempat kuliahnya di Depok, Ciputat, atau Bandung, nun jauh puluhan kilometer dari Kacapi Amis, apa akan menyambut mereka dengan senyum lebar, mendengarkan celotehan mereka, dan memberi komentar dengan bijaksana.
Ibu pandai memasak dan senang sekali menyapu halaman rumahnya yang luas itu, sehingga rumah panggung mereka yang teduh itu makin asri di tangan ibu dengan rerimbunan bunga dan pepohonan, membuat anak-anaknya atau siapa saja yang datang ke rumahnya merasa betah tinggal berlama-lama.
Begitulah; lingkungan, iklim, dan romantisme kampung sangat mungkin membuat penghuninya merasa nyaman dan aman. Untuk sebagian orang, keadaan ini dapat menina-bobokan dan melenakan; berselimut sarung, sambil siduru di hareupeun hawu, membuat sebagian dari kami, orang kampung malas beranjak dari comfort zone semacam itu.
Memiliki sumber pangan yang cukup, berpendidikan standar dan situasi kampung yang aman tentram, kadang menjadikan para penduduk berpuas diri . It seems that life is simple, easy and joyful.
Tapi tidak demikian dengan keluarga apa. Terpenuhinya basic needs mereka yakni sandang, pangan, dan papan, tidak membuat mereka bangun telat dan terlambat ke sekolah. Apa dan ibu bahkan memiliki pemikiran ke depan jauh sebelum istilah Visioner dikenal seperti sekarang ini.
Pemikiran dan mimpi-mimpi apa dan ibu tidak sesederhana kehidupan mereka sehari –hari yang dimulai dengan nasi gonjleng atau gogodoh pisang tanduk. Cita-cita Apa dan Ibu untuk mengantarkan anak-anaknya menuju ke sekolah yang tinggi membangkitkan mereka dari tidur nyenyak di subuh yang dingin nan nyaman itu.
Menapaki jalan tanah atau berbatu, mereka berlari dengan senang hati menuju sekolah. Kadang jika hujan deras mengguyur, jalanan menjadi licin berlumpur kental, anak -anak itu tetap riang melangkah dibawah payung daun pisang atau daun kajar-kajar, sambil mengangkat tinggi-tinggi rok panjang atau celana seragamnya menuju sekolah, melewati jarak yang tak kurang dari dua kilo meter jauhnya.
Pembaca,
Lihatlah beberapa tahun kemudian. Semangat apa dan ibu itulah yang mengobarkan semangat Ali Nurdin menyelesaikan studinya di jurusan Hubungan internasional Universitas Padjadjaran, Bandung, serta S2-nya di Universitas Indonesia, dan sekarang S3 di Unpad (lagi). Wow.... Subhanallah... It is awesome !!
Moh. Zen, si kasep dan jenaka putra apa yang kedua, setelah lulus SMA melanjutkan kuliah di jurusan ikhfa, eh.... IPA_ IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Setelah itu ia melanjutkan S2 Manajemen di sekolah papan atas PPM. (Excellente...)
Sekarang dia bekerja sebagai salah seorang tenaga muda yang kreatif , dan diandalkan oleh orang-orang tua di Departemen Agama Pusat. Selain juga megabdi sebagai pendidik di perguruan Tinggi UNMA, serta aktif dalam beberapa organisasi sosial.
Putri pertama Apa, atau anak ketiganya; Yoyoh, sudah berani jauh dari orang tuanya sejak SMA. Ia bersekolah di MAN –MP (Madrasah Pembangunan) Ciputat dalam usia yang masih belia. Bayangkan, dalam usia semuda itu (sekitar 15 tahun), ia sudah berani nge-kost bareng dengan mahasiswi UIN. Tidak heran jika ia jauh lebih cepat dewasa dan tahu banyak hal dibandingkan gadis kecil lain seusianya.
Putri kecil-chubby- yang pemberani itu kini berprofesi sebagai ibu rumah tangga yang soleha bagi suami dan kedua putranya, sambil melanglang buana ke berbagai daerah dan mancanegara, karena ia juga sibuk ngurusi sekolah-sekolah terpencil, dibawah naungan AUS_AID, sebuah organisasi nirlaba dibawah kedutaan Australia tempat ia bekerja.
Sebelumnya, Yoyoh juga pernah bekerja di perusahaan besar Jepang, Sony, setelah menamatkan kuliahnya di jurusan Administrasi Niaga Universitas Indonesia, sebelum ia pindah kerja ke tempat yang ditekuninya sekarang ini sampai ke level Project –Manager.
Sodara, semoga saya tidak berlebihan dalam menceritakan sebagian kisah apa dan Ibu ini. Saya bahkan belum menulis tentang ‘Ai, ibu bidan yang kini tengah menambah ilmu di Universitas Indonesia jurusan Administrasi Kesehatan Masyarakat. (bener nggak Ai?)
Putri ke empat Apa ini mengabdikan dirinya untuk kesehatan ibu, bayi, dan balita, di RS Serang, ibukota provinsi Banten. Semoga di tangan teh Ai, anak-anak golden agers itu menjadi generasi yang sehat, tangguh dan soleh-soleha.
Untuk ukuran masyarakat Menes, bahkan kota Pandegelang, achievement Apa dan Ibu ini sungguh tidak dapat dikatakan sederhana, seperti halnya sifat ibu dan Apa naturally. Bisa jadi dulu apa dan ibu tidak membayangkan anak-anaknya berangkat sejauh itu ke berbagai tempat-tempat dimana mereka menemukan sumber ilmu yang hebat .
Yang Apa dan ibu lakukan hanyalah memberikan yang terbaik buat anak-anaknya.
Apa rahasia Apa dan ibu dalam mendidik putra putrinya? Bagaimana membangun eagerness dan curiosity anak-anak itu ? Bagaimana apa dan ibu mengatasi lika-liku dalam mendidik anak-anaknya?. Itulah rahasia yang ingin penulis ketahui.
Dalam usia apa dan Ibu yang sekarang sudah tidak muda lagi, kiranya penting bagi kita untuk mengetahui sejauh mana upaya mereka dalam membesarkan anak-anaknya dulu, sehingga kini mereka mampu berkiprah membantu masyarakat yang memerlukan sesuai bidangnya masing-masing..
Demikian semoga bermanfaat.. mohon maaf jika ada kekeliruan .. :)
Kamis, 10 November 2011
Kereta ( Part 3 )
Kawan,
Keberuntungan adalah suatu hal yang sangat personal. Sesuatu yang dirasakan oleh seseorang sebagai sebuah keberuntungan, bagi orang lain mungkin merupakan hal yang biasa-biasa saja.
Hari ini aku beruntung mendapatkan kereta "langsam" sehingga aku akan melihat senyum manis Bu Erna, guru piket di sekolahku. Langsam adalah kereta penumpang jarak jauh yang punya ciri -ciri sbb:
1. Warna kereta kuning kusam
2.Di gerbong pertama tidak ada jendela dan kursi. Gerbong itu seperti sebuah los/aula yang digunakan Totto Chan dan teman-temannya untuk kelas SD di Jepang.
3. Gerbong pertama itu penuh dengan para pedagang dan kuli pasar dengan barang bawaan mereka:daun pisang bergulung-gulung, buah-buahan desa (sirsak,pisang,melinjo,pete dsb), umbi-umbian, rebus singkong, bumbu dapur berkarung-karung (lengkuas, salam, sereh, jahe), sayuran, ayam kampung dan sesekali kambing.
4 . Diatas gerbong banyak penumpang duduk, berjejer rapi membentuk barisan orang orang yang mendang, menjulurkan kaki ke depan dengan tungkai hampir menyentuh jendela-jendela kaca kereta api yang sudah retak-retak.Mereka ngobrol sambil merokok dan bercanda, sama sekali tidak takut akan ancaman maut karena terjatuh atau tersengat kabel listrik KRL tegangan tinggi yang hanya beberapa centi diatas kepala mereka.
Mereka merasa beruntung bisa duduk disitu sehingga mereka bisa datang tepat waktu ke tempat kerja.
5. Di pintu masuk sudah penuh orang sehingga hanya orang-orang yang beruntunglah (seperti aku hari ini) yang bisa melesakkan badan kedalamnya.Suara mengaduh orang yang terinjak kakinya atau nyangkut ranselnya adalah pemandangan yang biasa.
6. Solidaritas para penumpangnya sangat tinggi. Mereka akan dengan sukarela dan sukacita mengeserkan inci demi inci tubuhnya (bahkan mengecilkan perutnya :) seperti yang kuceritakan padamu kemarin). Tidak ada yang mengeluh, tidak ada yang melarang penumpang lain merokok atau batuk-batuk, bahkan kalau bisa lewat, pedagang segala rupa boleh mondar mandir dari gerbong satu ke gerbong lainnya. Para pedagang itu selalu tersenyum, dan bahkan bisa bercanda dengan para pedagang lain serta para penumpang langganan.
7. Sudah ya, enam aja dulu.
Oya, kembali ke desktop, aku dan anakku, Teta yg sekarang kelas I SMK 30 ata Boga, alhamdulillah beruntung kini, berdiri di pintu masuk. Disamping kami ada bapak pedagang ayam kampung, lengkap dengan keranjang ayam berisi sekitar 15-20 ekor ayam.
Karena besarnya si keranjang, dan karena penuhnya penumpang di dalam, si abang dan ayamnya tidak bisa masuk ke gerbong barang, jadi cuma sampai pintu, bersama-sama dengan kami, para pekerja dan anak-anak sekolah berbaju putih, yang dari rumahnya harum karena mandi dengan sabun-shampo dan air bersih.
Si abang dan ayamnya sepertinya sudah ada disitu sejak stasiun awal (Rangkas Bitung) atau stasiun kedua, karena volume perbendaharaan tai konot lantung si ayam kampung sudah cukup signifikan.
Teta manyun, mengangkat rok putihnya, dan menutup hidungnya dengan ujung kerudung putihnya. Angin bertiup kencang menerpa melalui celah pintu dan jendela, mengalirkan semerbaknya aroma "Chicken Pu" sepanjang jalan.. sampai ke Tanah Abang.
Tuuuuuuut Tuuuuuut..... siapa hendak turuuuuuuuuuuuuuuut
Keberuntungan adalah suatu hal yang sangat personal. Sesuatu yang dirasakan oleh seseorang sebagai sebuah keberuntungan, bagi orang lain mungkin merupakan hal yang biasa-biasa saja.
Hari ini aku beruntung mendapatkan kereta "langsam" sehingga aku akan melihat senyum manis Bu Erna, guru piket di sekolahku. Langsam adalah kereta penumpang jarak jauh yang punya ciri -ciri sbb:
1. Warna kereta kuning kusam
2.Di gerbong pertama tidak ada jendela dan kursi. Gerbong itu seperti sebuah los/aula yang digunakan Totto Chan dan teman-temannya untuk kelas SD di Jepang.
3. Gerbong pertama itu penuh dengan para pedagang dan kuli pasar dengan barang bawaan mereka:daun pisang bergulung-gulung, buah-buahan desa (sirsak,pisang,melinjo,pete dsb), umbi-umbian, rebus singkong, bumbu dapur berkarung-karung (lengkuas, salam, sereh, jahe), sayuran, ayam kampung dan sesekali kambing.
4 . Diatas gerbong banyak penumpang duduk, berjejer rapi membentuk barisan orang orang yang mendang, menjulurkan kaki ke depan dengan tungkai hampir menyentuh jendela-jendela kaca kereta api yang sudah retak-retak.Mereka ngobrol sambil merokok dan bercanda, sama sekali tidak takut akan ancaman maut karena terjatuh atau tersengat kabel listrik KRL tegangan tinggi yang hanya beberapa centi diatas kepala mereka.
Mereka merasa beruntung bisa duduk disitu sehingga mereka bisa datang tepat waktu ke tempat kerja.
5. Di pintu masuk sudah penuh orang sehingga hanya orang-orang yang beruntunglah (seperti aku hari ini) yang bisa melesakkan badan kedalamnya.Suara mengaduh orang yang terinjak kakinya atau nyangkut ranselnya adalah pemandangan yang biasa.
6. Solidaritas para penumpangnya sangat tinggi. Mereka akan dengan sukarela dan sukacita mengeserkan inci demi inci tubuhnya (bahkan mengecilkan perutnya :) seperti yang kuceritakan padamu kemarin). Tidak ada yang mengeluh, tidak ada yang melarang penumpang lain merokok atau batuk-batuk, bahkan kalau bisa lewat, pedagang segala rupa boleh mondar mandir dari gerbong satu ke gerbong lainnya. Para pedagang itu selalu tersenyum, dan bahkan bisa bercanda dengan para pedagang lain serta para penumpang langganan.
7. Sudah ya, enam aja dulu.
Oya, kembali ke desktop, aku dan anakku, Teta yg sekarang kelas I SMK 30 ata Boga, alhamdulillah beruntung kini, berdiri di pintu masuk. Disamping kami ada bapak pedagang ayam kampung, lengkap dengan keranjang ayam berisi sekitar 15-20 ekor ayam.
Karena besarnya si keranjang, dan karena penuhnya penumpang di dalam, si abang dan ayamnya tidak bisa masuk ke gerbong barang, jadi cuma sampai pintu, bersama-sama dengan kami, para pekerja dan anak-anak sekolah berbaju putih, yang dari rumahnya harum karena mandi dengan sabun-shampo dan air bersih.
Si abang dan ayamnya sepertinya sudah ada disitu sejak stasiun awal (Rangkas Bitung) atau stasiun kedua, karena volume perbendaharaan tai konot lantung si ayam kampung sudah cukup signifikan.
Teta manyun, mengangkat rok putihnya, dan menutup hidungnya dengan ujung kerudung putihnya. Angin bertiup kencang menerpa melalui celah pintu dan jendela, mengalirkan semerbaknya aroma "Chicken Pu" sepanjang jalan.. sampai ke Tanah Abang.
Tuuuuuuut Tuuuuuut..... siapa hendak turuuuuuuuuuuuuuuut
Rabu, 09 November 2011
Jogja I am coming................
"Ma.. Oim mau sekolah di Sekolah "active learning" ! kata anakku ketika dia masih SD.
Dia menemukan istilah itu mungkin dari bacaan. Dia suka membaca, apa saja.
Katanya, di SD tempat ia belajar nggak actve learning sehingga ia pengen pindah.
Waktu di MTsN (SMP Islam)Pondok Pinang, ia bilang ia ingin meneruskan ke SMA 34. Aku belum pernah mendengar angka itu. Tapi dia keukeuh ingin kesana walaupun aku dan uwak-bibinya merekomendasi sekolah-sekolah lain, mulai dari yang terbagus sampai yang tergratis.
Lalu dia lulus di SMA 34 Pondok Labu. Alhamdulillah lulus sesuai keinginannya. Disana dia bertemu dengan anak-anak yang cool. Ada Dapit (David), Dana, Galih, Lukman, Fizzi.Ada juga yang kocak dan garang seperti anak-anak G@s#$&*
Waktu kelas 2 SMA, Oim sudah memantapkan niat untuk masuk fakultas hukum UGM. Dua kali seminggu ia ikut bimbingan belajar, dan alhamdulillah sekarang ia mendapatkan apa yang diinginkannya itu.
Nah, disinilah cerita intinya baru akan kumulai.
Saat-saat menenti hasil seleksi SENAMPTN adalah saat paling menegangkan buat aku dan Oim. Aku memintanya mengikuti seleksi universitas lain. Aku memilih komputer BSI dan simak UI. Setengah hati Oim mendaftar, karena ia nggak minat.
Aku kesal, karena apa yang akan dia lakukan kalau tidak lulus di UGM? dengan enteng dia menjawab: "Kalau tidak lulus di Jogja, Oim nggak mau kuliah".
"Haa? So,What are you going to do?" aku ngeri membayangkan Oim tinggal di rumah, tiduran lalu main game bola, sementara teman-temannya sibuk belajar di UI, ITB, IPB, UNMA
" Oim mau berternak bebek di kampung," katanya dengan mantap.
Setiap melihat bebek, baik bebek bang Khoer, tetanggaku, yang suka seenaknya berak di teras rumah kami, atau gambar-gambar spanduk di kios-kios bebek goreng, aku teringat wajah Oim. Memakai dudukuy berselempang sarung, dan membawa sebilah bambu, menggiring bebek-bebeknya di pematang sawah desa kami: "riririririri..."
Maaf... aku belum siap. Aku berdoa semoga Oim lulus UGM.Pilihan dia satu-satunya.
Maka sengaja aku menemani dia ke warnet pada hari pengumuman kelulusan ujian yang agung itu.
Kalau lulus, kami akan menangis bersama-sama, dan kalau tidak, aku juga akan tahu dari awal, tidak perlu mendapati dia dengan wajah layu berkata : Maaf maa.. saya belum berhasil "
Bismillah.....
Dengan tangan gemetar, Oim membuka website UGM, menuliskan nomor ujiannya, dan berkata : "MAMAAAAAAAAAAAAAAAA, Oim LULUUUUUUUUUUUUUUS!"
Maka berkemaslah kami. Menuju kota idaman> Djogjakarta !
Jangan salahkan jika di kereta terjadi pelecehan
(2) "Enceeek !"
Rupanya kereta api bisa juga jadi ajang silaturahmi. Buktinya mereka yang setiap hari bertemu didalamnya; bisa menjadi teman, saudara, bahkan pacar.
Ada yang menjadi pacar beneran sehingga jadi jodoh, ada pula pacar sambil lewat atau hanya iseng.
Hari ini aku naik kereta berkenalan dengan dua ibu guru lain yang mengajar di sekolah yang berbeda. satu di SD Negeri Kebayoran Lama dan yang lain di Bhakti Mulia, Pondok Indah. Si Ibu guru SD Negeri adalah wanita tua yang ramah dan energik. Dia langsung ditawari tempat duduk oleh seorang wanita muda yang selalu duduk di tempat duduk dan gerbong yang sama setiap hari. Rupanya mereka sudah berteman
Ibu SD Negeri bertanya pada ibu yang menawarinya duduk, apakah anaknya yang hilang sudah ditemukan? Dengan terharu dan sumringah si wanita muda menjawab bahwa anak laki2 semata wayangnya telah ditemukan setelah hilang selama 4 hari. Merekapun ngobrol dengan akrabnya.
Si ibu guru SD Bhakti Mulia lebih muda dariku. Anaknya tiga, dan anak ketiganya ternyata satu sekolah dengan Cinta, anak terakhirku. Kami baru kenal pada hari itu dan langsung nyambung.
Ada lagi dua sejoli yang ngobrol pelan dalam kepadatan penumpang itu. Kadang mereka cekikikan keasyikan tak peduli dengan penumpang lain ditengah derasnya keringat yang mengalir lewat sela-sela pori dan tiap lembar rambut mereka.
Si pemuda mengeluh ketika harus turun di stasiunnya, meninggalkan wanita muda yang masih harus lanjut ke destinasi berikutnya.
"Aku duluan ya yaaang..." katanya tanpa malu-malu.
Lain lagi dengan penumpang lain yang bernama mpok Mila, begitulah para penumpang lain memanggil t namanya. Orangnya cukup prigel dan agak montok. Dia juga ceria namun tetap sopan. Mila sudah cukup di kenal di gerbong itu. Beberapa kenalan Mila di gerbong itu adalah Aki Ompong, Herman, Encek, dan ibu-ibu guru yang kusebutkan tadi. Mereka semua berdiri dekat Mila, sang primadona kereta.
Hari itu Mila mati-matian menghindari "kerapatan" atau "desakan" dari orang-orang yang ada di depannya itu dengan cara melindungi dada dan wajahnya dengan kipas yang ada di tangannya. Orang yang paling deket didepannya adalah Encek, yang juga tiap hari kerja naik KRL di gerbong tersebut.
Sebenarnya hal itu sudah sangat biasa buat Mila karena tiap hari keadaannya memang seperti itu seandainya saja posisi Encek tidak persis menghadapinya. Encekpun berusaha membalikkan badan namun apa daya ia tak bisa saking padatnya. Walhasil Encek malah cengar-cengir ga jelas, sepertinya ia suka situasi itu sebagai sebuah "bonus".
Kereta berhenti di sebuah stasiun. Desakan penumpang yang baru masuk semakin hebat tak tertanggungkan. Aku terdesak, dan getuk singkong di tas ranselku pasti gepeng kayak opak enye-enye. Mila bersandar ke diding gerbong, menahan rentangan tangan encek yang merapat ke dinding beberapa inci dari telinga Mila. Tangan Encek berada disisi kiri kanan pinggang Mila.
"Encek.... geser luh !" kata Mila cemberut
"Ga bisa gua..nengok aja susah !" jawab Encek terengah-engah.
Aki bersuit suit. Herman berkata;
"Cek... kalau lu difoto bagus dah... mesrah banget!"
"Idih.." kata Mila campur antara jengkel dan malu.
"Ha haha...." Encek dan Aki ompong ketawa.
Suasana makin gaduh. yang menderita, yang tertawa bercampur jadi satu.
Yang tidak suka pada adegan itu melengos, walaupun tak mampu, disebabkan karena apa yang sudah Encek bilang tadi, nengok aja susah.
Pada saat kereta mau berhenti, mungkin pak Masinis belum lihai mengerem, jadilah ia seperti mengerem mendadak. Terdoronglah Encek kearah Mila.
"Enceeeeeeeeeeeeeeeeeeeek !" teriak Pok Mila.
"Hahahahahaha" kata lelaki2 yang terpaksa bertingkah bergajul itu..
Di kereta Serpong-Sudimara-Tanabang - Kota, mau jadi orang alim juga susah.
Naik Kereta Api Tut Tut Tut
Naik kereta api Tut.. tut..tuuuuuut....
Tidak pernah aku merasa sedekat ini dengan orang. Kecuali hari ini, dan hari hari berikutnya setelah sejak beberapa minggu yang lalu aku memutuskan untuk naik kereta api.
Oya, sebelum kugambarkan kedekatanku dengan orang lain itu, baiklah kuceritakan dulu mengapa aku memilih naik kereta api menuju tempatku mengajar.
Jarak antara rumah dan sekolah tempatku mengajar sekitar 10 km. Pada awalnya aku selalu naik angkot dua kali selama bertahun-tahun, dan aku selalu terlambat karena lalu-lintas sangat macet. Lalu kucoba naik motor dengan anak perempuanku yang sudah SMA. Tapi kedua cara tersebut tetap tidak nyaman dan aman.
Bersyukur ada cara lain yang dapat ku tempuh. Kereta api !
Akhirnya jatuhlah pilihan terakhirku pada kereta api. Dan itu membuat aku sangat gembira karena aku bisa tiba lebih cepat. Hanya 30 menit ! Bayangkan, bertahun tahun aku berada di jalan selama satu setengah jam menuju tempatku bekerja, dan selama itu pulalah ketika menuju pulangnya. What a progress !
Nah, inilah cerita hari-hari pertama aku naik kereta. Aku merasakan kini, betapa dekatnya aku dengan kereta api, dan betapa dekatnya aku dengan para penumpangnya. Sangat dekat.
I can hear your heart beating !
Tergesa-gesa aku membeli tiket. ada yg ekonomi, rp 1500, ada yg express rp 6000. aku memilih yang pertama mengingat kereta itulah yg datang duluan dan sangat murah.... :) lalu naiklah aku.
Janganlah kawan berharap aku dapat tempat duduk. sudah bisa masukpun sukurlah. "You are not alone", hiburku. Gerbong berkapasitas 40 penumpang berdiri itu disesaki hampir dua kali lipatnya. And, you know what? Everybody was happy. I can even see they were smiling to each other.
Lega rasanya karena kereta KRL Serpong-Tanabang itu segera melaju. Berdiri sepuluh menit tak apalah, dibandingkan duduk nyaman di angkot di kemacetan dengan bonus debu dan asap.
Di stasiun pertama (Jurang Mangu) kereta berhenti. Sekitar sepuluh penumpang lain masuk ke gerbongku. "Geser-geser!" kata para penumpang baru itu.
Keretapun bergerak lagi. Kami makin dekat satu sama lain. dan ketika kereta berhenti lagi di stasiun berikutnya (Pondok Ranji), sekitar duapuluh orang penumpang kembali mendesak masuk ke gerbongku yang sudah overload itu.
Sebenarnya secara logika matematika manapun, mereka itu sudah tidah dapat lagi masuk kedalam gerbong kami. Tetapi karena merasa senasib dan sepenanggungan, tetap saja kami berusaha bergeser. Kali ini bukan hanya menggeserkan kaki, tapi badan, tangan ,tas, atau bahkan telingapun kami lipat.
Tak jarang kami harus mengecilkan, maaf, bagian belakang tubuh kami, bagian depan tubuh kami, dan kalau mungkin bagian sisi kiri kanan badan kami, sehingga aku berfikir, jika saja anatomi tubuh manusia-manusia kereta ini tak berdaging, tentu tulang-tulang kami sudah ringsek, sek!!!
Terimakasih ultimately buat Allah Subhanahu wata'ala, karena respiratory organ kami terbungkus rapi oleh tulang dan daging sehingga kami masih dapat bernafas. Hufffffff...
Seperti hari ini. Didepanku adalah seorang pria tinggi besar dan gagah. Dia membelakangiku, dan aku begitu dekat dengannya sehingga aku dapat mendengar detak jantungnya ! Gila..
Di sampingku, ibu penjual gorengan yang tak henti-hentinya berceloteh menawarkan dagangannya. "Saya juga jual payung buu, bukan hanya bakwan.... payung saya bagus bu!" katanya persis di telingaku.
Di belakangku seorang lelaki yang berjaket tebal dan bau apek. Mungkin sudah bulanan jaket itu tidak dicucinya. Tangannya bergelayut ke atas, menebarkan aroma ketiak yang ngadubillah baunya.
"Ya Allah, semoga aku segera sampai di tujuan", doaku .
(Teriring salam manis dari kami buat Pak Dahlan Iskan..).
(2) "Enceeek !"
Langganan:
Postingan (Atom)